Selasa, 20 November 2012

Teori Struktural Sebagai Landasan Berfikir Dalam Penulisan Puisi


Pengertian Teori Struktural
Strukturalisme berasal dari linguistik Ferdinan yang merupakan suatau cara berfikir tentang dunia yang secara khusus memperhatikan presepsi dan deskripsi tentang struktur, mengkaji fenomena mitos dan ritual untuk melihat tanda. Yang menjadi objek kajian teori strukturalisme adalah sastra, yaitu seperangkat konvensi yang abstrak dan umum yang mengatur berbagai hubungan unsur dalam teks sastra sehingga unsur- unsur tersebut berkaitan satu sama lain dalam keseluruhan yang utuh. Meskipun konvensi yang membentuk sistem sastra itu bersifat sosial dan ada dalam kesadaran masyarakat tertentu. Analisis yang seksama dan menyeluruh terhadap relasi-relasi berbagai unsur yang membangun teks sastra dianggap akan menghasilkan suatu pengetahuan tentang sistem sastra.


Teori Strukturalisme Sebagai Landasan Berfikir Dalam Penulisan Puisi 

Pendekatan struktural berangkat dari pandangan kaum strukturalisme yang menganggap karya sastra sebagai struktur yang unsurnya terjalin secara erat dan berhubungan antara satu dan lainnya. Karya sastra merupakan sebuah kesatuan yang utuh. Sebagai kesatuan yang utuh, maka karya sastra dapat dipahami maknanya jika dipahami bagian-bagiannya atau unsur-unsur pembentuknya, relasi timbal balik antara bagian dan keseluruhannya. Dalam penulisan puisi dengan menggunakan teori strukturalisme maka kita harus memperhatikan unsur-unsur puisi, karena kajian teori strukturalisme adalah unsur-unsur pembentuk karya satra, dan pada kesempatan ini karya sastra yang di kaji adalah puisi.
Penulisan puisi dengan berlandasan teori strukturalisme berarti dalam penulisan puisi memperhatikan unsur-unsur pembentuk puisi baik unsur instrinsik maupun unsur ekstrinsik puisi. Unsur instrinsik puisi yaitu tema, perasaan, nada dan suasana, serta amanat, sedangkan unsur ekstrinsik puisi yaitu diksi, kata konkret, bahasa figuratif, rima/ritme, dan tata wajah atau tipografi. Cara menuliskan puisi dengan berlandasan teori struktural yang pertama yaitu memahami unsur ekstrinsik puisi sebagai berikut:
1.    Diksi (pemilihan kata)
          Teori strukturalisme menganalisis diksi sebaga unsur ekstrinsik puisi, diksi adalah pemilihan kata, jadi kata-kata yang digunakan dalam puisi merupakan hasil pemilihan yang cermat, merupakan hasil pertimbangan, baik makna, susunan bunyinya maupun hubungan kata-kata lain dalam baris dan baitnya. Misalnya seperti pemilihan kata yang meyatakan diri pengarang, pengarang mengumpulkan kata-kata yang memiliki makna dirinya sendiri diantaranya kata aku (bahasa Indonesia), beta(bahasa Batak), den(bahasa Melayu/minang), gue (bagasa anak gaul), aana(bahasa Arab), I (bahasa Inggris), kulo (bahasa Jawa), dan sebagainya. pemilihan kata aku untuk menyebut dirinya sendiri merupakan proses pemilihan kata atau diksi. Pengarang memilih kata aku untuk menyebut dirinya sendiri karena kata aku adalah menggunakan bahasa indonesia dan pasti maknanya telah diketahui oleh rakyat indonesia, karena bahasa indonesia adalah bahasa kesatuan.
2.        Pengimajinasian
                        Teori strukturalisme menganalisis pengimajinasian sebagai unsur ekstrinsik puisi dimana pengimajinasian dapat didefinisikan sebagai kata atau susunan kata yang dapat menimbulkan hayalan atau imajinasi. Dengan daya imajinasi tersebut pembaca seolah-olah merasa, mendengar atau melihat sesuatu yang diungkapkan pengarang. Perhatikan contoh puisi berikut
             
              Kehilangan Mestiku
              Sepoi berhembus angin menyejuk diri
              Kelana termenung
              Merenung air
              Lincah bermain ditimpa sinar

 
              Hanya sebuah bintang
              Kelap kemilau
              Tercampak dari langit
              Tidak berteman

              Hatiku, hatiku
              Belum jua sejuk dibuai bayu
              Girang beriak mencontoh air
              Atau laksana bintang biarpun sunyi
              Tetap bersinar berbinar-binar
              Petunjuk nelayan di samudra lauta

                                              Karya : Aoh Kartahadimadja
             
              Untuk mengetahui ungkapan imajinasi pengarang perhatikan kata-kata berikut
a.       Kata-kata lincah bermain, ditimpa sinar, kelap kemilau, girang bintang, bersinar berbinar-binar membangkitkan imajinasi melalui indra pengelihatan.
b.      Kata berhembus membangkitkan imajinasi melalui indra pendengaran.
c.       Kata sejuk dan dibuai membangkitkan imajinai melalui indra peraba.
              Secara keseluruhan, pengarang dalam puisi itu menggambarkan gerak alam, seperti hembusan angin, permainan air, dan bintang bersinar. Dengan penggambaran yang cukup jelas itu, pembaca seakan-akan ikut menyaksikan girang dan kemilaunya suasana alam itu dan keadaan hati kelana yang tengah bersedih.
3.         Kata konkret
     Teori strukturalisme menganalisis kata konkret sebagai unsur ekstrinsik puisi. Kata konkret digunakan untuk membangkitkan imajinasi pembaca, atau kata-kata harus di konkretkan atau diperjelas. Karena dengan keahlian memperkonkret kata, pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan apa yang dilukiskan oleh pengarang. Perhatikan penggalan puisi dibawah
                                   
Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyumu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

              Dalam puisi tersebut pengarang benar-benar ingin melukiskan bahwa gadis yang terdapat dalam puisinya adalah benar-benar seorang pengemis gembel, pengarang menggunakan farasa gadis kecil berkaleng kecil.
4.         Bahasa figuratif
           Teori strukturan menganalisis bahasa figuratif sebagai unsur ekstrinsik puisi. Bahasa figuratif disebut juga majas, majas adalah bahasa yang digunakan oleh pengarang untuk mengatakan sesuatu dengan cara membandingkanya dengan benda atau kata lain. Majas mngiaskan atau menyamakan sesuatu dengan hal lain. Perhatikan penggalan puisi berikut

Risik risau ombak memecah
Di pantai landai
Buih berderai

Dalam penggalan puisi tersebut. Pengarang menggambarkan bahwa ombak digambarkan seolah-olah manusia yang bisa berisik dan memiliki rasa risau, atau lebih jelasnya dalam puisi tersebut pengarang menggunakan majas personifikasi.
                                     
5.    Rima/ritme
       Teori struktural menganalisis rima/ritme sebagai unsur ekstrinsik puisi. rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi. Dengan adanya rima, suatu puisi menjadi indah. Makna yang ditimbulkanya pun lebih kuat, seperti petikan sajak berikut ini dan angin mendesah/ mengeluh mendesah. Sedangkan istilah ritma diartikan sebagai pengulangan kata, frase atau kalimat dalam bait puisi.
6.    Tata wajah (tipografi)
         Teori struktural menganalisis tipografi sebagai unsur ekstrinsik puisi. tipografi merupakan pembeda yang penting antara puisi dengan prosa dan drama. Larik-larik puisi tidak berbentuk paragraf melainkan bait.
Cara menulis puisi dengan berlandasan teori strukturalisme yang kedua yaitu memahami unsur instrinsik/batin puisi, unsur instrinsik puisi adalah sebagai berikut:
1.      Tema
            Teori strukturalisme menganalisis tema sebagai unsur instrinsik/batin puisi. tema puisi merupakan gagasan utama pengarang dalam puisinya. Gagasan pengarang cenderung tidak selalu sama dan besar kemungkinan untuk berbeda-beda. Oleh sebab itu, tema puisi yang digunakanya pun berlainan, Waluyo (1987) menyatakan bahwa ”tema puisi diklasifikasikan menjadi lima kelompok mengikuti isi pancasila, yaitu tema ketuhanan, kemanusiaan, patriotisme/kebangsaan, kedaulatan rakyat dan keadilan sosial”.
a.       Tema ketuhanan
Tema ketuhanan adalah menggambarkab pengalaman batin, keyakinan, sikap pengarang terhadap tuhan.
b.      Tema kemanusiaan
Puisi dengan tema kemanusiaan mengungkapkan tingginya martabat manusia dan bermaksud meyakinkan pembaca bahwa setiap manusia memiliki harkat dan martabat yang sama.
c.       Tema patriotisme
Puisi dengan tema patriotisme/kebangsaan adalah melukiskan perjuangan merebut kemerdekaan atau mengisahkan riwayat pahlawan yang berjuang melawan penjajah.
d.      Tema kedaulatan rakyat
Puisi dengan tema kedaulatan rakyat biasanya mengungkapkan penindasan dan kesewenag-wenangan terhadap rakyat.
e.       Tema keadilan sosial
Puisi bertema keadilan sosial lebih menyuarakan penderitaan, kemiskinan, atau  kesenjangan sosial.
2.      Perasaan
            Teori strukturalisme menganalisis perasaan sebagai unsur instrinsik puisi. perasaan merupakan unsur batin puisi yang paling mewakili perassan pengarang, ekspresi dapat berupa kerinduan, kegelisahan, atau pengagungan kekasih, alam, atau sang Khalik. Contoh dalam dua bait puisi berikut
Hanyut aku Tuhanku
Dalam lautan kasih-Mu
            Tuhan, bawalah aku
            Meninggi kelangit ruhani
            Larik-larik puisi diatas diambil dari puisi yang berjudul “ Tuhan “ karya Bahrum Rangkuti. Puisi tersebut merupakan pengungkapan rasa kerinduan dan kegelisahan penyair untuk bertemu dengan sang Khalik. Kerinduan dan kegelisahanya diungkapkan melalui kata hanyut, kasih, meninggi, dan langit ruhani.
3.      Nada dan suasana
            Teori strukturalisme menganalisis nada dan suasana sebagai unsur instrinsik puisi. dalam menulis puisi, pengarang mempunyai sikap tertentu terhadap pembaca, antara lain menggurui, menasehati, mengejek, menyindir, atau bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca. Sikap pengarang terhadap pembaca di sebut nada puisi sedangkan suasana adalah akibat yang ditimbulkan oleh puisi terhadap jiwa pembaca.
4.      Amanat
            Teori struktural menganalisis amanat sebagai unsur instrinsik puisi. Amanat adalah pesan yang disampaikan pengarang melalui penulisan puisi. amanat yang hendak disampaikan oleh pengarang dapat ditelaah setelah kita memahami tema, rasa, dan nada puisi. tujuan/amanat merupakan hal yang mendorong pengarang untuk menciptakan puisi. Amanat tersirat di balik kata-kata yang disusun dan tema yang diungkapkan.


 
Daftar Pustaka
Ganz. “Pendidikan dan Analisis Teori Struktural”. http://sman2ppu-pai.blogspot.com/2011/06/pendidikan-dalam-analisis-teori.html . Agustus, 04 2012.
Kosasih. 2008. Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta : Nobel Edumedia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar