Selasa, 20 November 2012

Karangan Narasi (Kisahan)


Pengertian Karangan Kisahan (Narasi)
Karangan kisahan disebut juga karangan narasi, yaitu karangan yang menceritakan peristiwa. Peristiwa yang diceritakan itu dapat terdiri atas satu kejadian atau lebih. Dalam kejadian terkandung komponen-komponen pelaku perilaku, latar tempat, dan waktu.
Jika pelaku melakukan tindakan di suatu tempat pada suatu waktu, maka lahirlah kejadian. Beberapa kejadian yang berhubungan membentuk peristiwa. Sebuah kisahan dapat terjadi atas sebuah peristiwa. Dalam kisahan yang terdiri atas lebih dari satu peristiwa, peristiwa-peristiwa itu berhubungan. Hubungannya bermacam-macam, berupa hubungan waktu, hubungan pelaku, hubungan sebab akibat, dan sebagainya.
Beberapa peristiwa dihubungkan dengan waktu, yaitu diurutkan secara kronologis. Setelah peristiwa pertama, lalu menyusul peristiwa kedua, ketiga, dan selanjutnya. Dalam kisahan, pada umumnya urutannya seperti itu walaupun ada juga kisahan yang diceritakan tidak dalam urutan waktu yang berlanjut, melainkan dengan urutan mundur, misalnya terlebih dahulu diceritakan yang sekarang, kemudian mundur diceritakan peristiwa sebelumnya.
Beberapa peristiwa dihubungkan dengan pelaku, yaitu pada setiap peristiwa terdapat pelaku yang sama. Setiap peristiwa itu mungkin dapat dipandang berdiri sendiri, tetapi karena pelakunya itu-itu juga, maka semua peristiwa menjadi satu kisahan. Selain dihubungkan dengan pelaku, peristiwa-peristiwa itu sekaligus dihubungkan pula dengan waktu yang berurutan. Beberapa peristiwa dapat pula berhubungan secara sebab akibat, yaitu sebuah peristiwa mengakibatkan peristiwa berikutnya dan peristiwa tersebut kemudian menjadi sebab pula untuk timbulnya peristiwa lain.
Kisahan dapat dibedakan atas kisahan faktual dan kisahan rekaan. Kisahan faktual adalah kisahan yang peristiwanya benar-benar terjadi. Pelaku yang dilaporkan, perilakunya, tempat dan waktu kejadian, memang terdapat dalam kenyataan. Contohnya kisah sejarah dan riwayat hidup. Kisah rekaan adalah kisahan yang peristiwanya itu tidak benar-benar terjadi. Pelaku yang dilaporkan, perilaku, tempat dan waktu kejadian, tidak pernah terjadi secara faktual. Peristiwa itu hanya terjadi dalam rekaan, peristiwa itu dibayangkan saja terjadi. Dalam kisahan rekaan mungkin beberapa komponen bersifat faktual. Akan tetapi, keseluruhan peristiwanya adalah rekaan. Kisah rekaan lebih lanjut dapat dibedakan atas kisah rekaan yang mengesankan mungkin terjadi atau seolah-olah terjadi dan yang mengesankan mustahil terjadi. Kisahan yang berupa novel yang realistis mengesankan seolah-olah terjadi, sedangkan kisahan yang berupa dongeng dan hikayat banyak yang mengesankan mustahil terjadi.

 Jenis-jenis karangan kisahan (narasi)
1. Narasi Informatif (Faktual)
          Narasi informatif adalah narasi yang memiliki sasaran penyampaian informasi secara tepat tentang suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan orang tentang kisah seseorang.
Contoh:
Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia adalah seorang nasionalis. Ia memimpin PNI pada tahun 1928. Soekarno menghabiskan waktunya di penjara dan di tempat pengasingan, karena keberaniannya menentang penjajah. Soekarno mengucapkan pidato tentang dasar-dasar Indonesia merdeka yang dinamakan Pancasila pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945. Soekarno bersama Mohammad Hatta sebagai wakil bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Ia ditangkap Belanda dan diasingkan ke Bengkulu pada tahun 1948. Soekarno dikembalikan ke Yogyakarta dan dipulihkan kedudukannya sebagai Presiden RI pada tahun 1949. Jiwa kepemimpinan dan perjuangannya tidak pernah pupus. Soekarno bersama pemimpin-pemimpin negara lainnya menjadi juru bicara bagi negara-negara nonblok pada Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Hampir seluruh perjalanan hidupnya dihabiskan untuk berbakti dan berjuang.

2.      Narasi Ekspositorik (faktual)
Narasi ekspositorik adalah narasi yang memiliki sasaran penyampaian informasi secara tepat tentang suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan orang tentang kisah seseorang. Dalam narasi ekspositorik, penulis menceritakan suatu peristiwa berdasarkan data yang sebenarnya. Pelaku yang ditonjolkan biasanya satu orang. Pelaku diceritakan mulai dari kecil sampai saat ini atau sampai terakhir dalam kehidupannya. Karangan narasi ini diwarnai oleh eksposisi, maka ketentuan eksposisi juga berlaku pada penulisan narasi ekspositorik. Ketentuan ini berkaitan dengan penggunaan bahasa yang logis, berdasarkan fakta yang ada, tidak memasukan unsur sugestif atau bersifat objektif.
Contoh:
Siang itu, Sabtu pekan lalu, Ramin bermain bagus. Mula-mula ia menyodorkan sebuah kontramelodi yang hebat, lalu bergantian dengan klarinet, meniupkan garis melodi utamanya. Ramin dan tujuh kawannya berbaris seperti serdadu masuk ke tangsi, mengiringi Ahmad, mempelai pria yang akan menyunting Mulyati, gadis yang rumahnya di Perumahan Kampung Meruyung. Mereka membawakan lagu “Mars Jalan” yang dirasa tepat untuk mengantar Ahmad, sang pengantin.

3.      Narasi Artistik
Narasi artistik adalah narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud tertentu, menyampaikan suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar sehingga tampak seolah-olah melihat. Ketentuan ini berkaitan dengan penggunaan bahasa yang logis, berdasarkan fakta yang ada, tidak memasukan unsur sugestif atau bersifat objektif. Misalnya: cerpen, novel, roman atau drama.
Contoh:
Aku tersenyum sambil mengayunkan langkah. Angin dingin yang menerpa, membuat tulang-tulang di sekujur tubuhku bergemeretak. Kumasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku jaket, mencoba memerangi rasa dingin yang terasa begitu menyiksa. Wangi kayu cadar yang terbakar di perapian menyambutku ketika Eriza membukakan pintu. Wangi yang kelak akan kurindui ketika aku telah kembali ke tanah air. Tapi wajah ayu di hadapanku, akankah kurindui juga? Ada yang berdegup keras di dalam dada, namun kuusahakan untuk menepiskannya. Jangan Bowo, sergah hati kecilku, jangan biarkan hatimu terbagi. Ingatlah Ratri, dia tengah menunggu kepulanganmu dengan segenap cintanya.

4.      Narasi Sugestif
Narasi sugestif adalah narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud tertentu, menyampaikan suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar sehingga tampak seolah-olah melihat.
Contoh:
Patih Pranggulang menghunus pedangnya. Dengan cepat ia mengayunkan pedang itu ke  tubuh Tunjungsekar. Tapi aneh, sebelum mengenai tubuh Tunjungsekar, pedang itu jatuh ke tanah. Patih Pranggulang memungut pedang itu dan membacokkan lagi ke tubuh Tunjungsekar. Tiga kali Patih Peranggulang melakukan hal itu. Akan tetapi, semuanya gagal.
  
    Ciri-ciri Karangan Narasi
Menurut Keraf (2000:136). Ciri-ciri karangan narasi yaitu:
a.    Menonjolkan unsur perbuatan atau tindakan.
b.    Dirangkai dalam urutan waktu.
c.    Berusaha menjawab pertanyaan “apa yang terjadi?”
d.   Ada konfiks.

Narasi dibangun oleh sebuah alur cerita. Alur ini tidak akan menarik jika tidak ada konfiks. Selain alur cerita, konfiks dan susunan kronlogis, ciri-ciri narasi lebih lengkap lagi diungkapkan oleh Atar Semi (2003: 31) sebagai berikut:
1.    Berupa cerita tentang peristiwa atau pengaalaman penulis.
2.    Kejadian atau peristiwa yang disampaikan berupa peristiwa yang benar-benar terjadi, dapat berupa semata-mata imajinasi atau gabungan keduanya.
3.    Berdasarkan konfiks, karena tanpa konfiks biasanya narasi tidak menarik.
4.    Memiliki nilai estetika.
5.    Menekankan susunan secara kronologis.
Ciri yang dikemukakan oleh Keraf memiliki persamaan dengan Atar Semi, bahwa narasi memiliki ciri berisi suatu cerita, menekankan susunan kronologis atau dari waktu ke waktu dan memiliki konfiks. Perbedaannya, Keraf lebih memilih ciri yang menonjolkan pelaku.  


   Langkah-langkah Menulis Karangan Narasi
     Langkah-langkah menulis karangan narasi sebagai berikut:
a.    Tentukan dulu tema dan amanat yang akan disampaikan.
b.    Tetapkan sasaran pembaca.
c.    Rancang peristiwa-peristiwa utama yang akan ditampilkan dalam bentuk skema alur.
d.   Bagi peristiwa utama itu ke dalam bagian awal, perkembangan, dan akhir cerita.
e.    Rincian peristiwa-peristiwa utama ke dalam detail-detail peristiwa sebagai pendukung cerita.
f.     Susun tokoh dan perwatakan, latar, dan sudut pandang.
Cara membuat karangan narasi tidak terlalu sulit karena karangan jenis ini bisa diambil dari pengalaman pribadi sang penulis, sering kali dalam bentuk cerita. Ketika sang penulis mengungkapkan apa yang ada dipikirannya maka harus bisa untuk memasukkan semua konvensi cerita: plot, tokoh, setting, klimaks, dan akhir cerita. Karangan narasi harus sesuai alur sehingga dapat membuat pembaca merasakan langsung dari cerita yang dibaca tersebut. Sebelum membuat karangan narasi, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan yaitu:
a.    Diceritakan dari sudut pandang tertentu.
b.    Membuat dan mendukung suatu sudut pandang.
c.    Diisi dengan detail yang tepat.
d.   Menggunakan kata kerja yang jelas.
e.    Menggunakan konfik dan urutan cerita.
f.     Dapat menggunakan dialog.

Tujuan dari karangan naratif/narasi/kisahan adalah untuk menggambarkan sesuatu. Banyak siswa beranggapan bahwa karangan narasi seperti dalam pembuatan makalah. Sementara informasi dalam karangan ini adalah dasar untuk bentuk lain dari menulis. Contoh karangan narasi adalah sebuah “buku catatan kegiatan kerja” yang tidak hanya sebagai buku catatan biasa, tetapi juga mencakup karakter, tindakan mereka, plot dan beberapa adegan yang terjadi selama kegiatan berlangsung. Artinya, itu adalah gambaran tentang “apa yang terjadi di buku itu”.
Sebuah karangan narasi menceritakan apa saja yang dialami oleh penulis, baik apa saja yang terjadi disekitarnya. Bisa tentang cinta, masyarakat, lingkungan dan sebagainya. Dengan kata lain, karangan narasi sering menggambarkan tujuan penulis atau sudut pandang yang kemudian diekspresikan melalui buku atau artikel. Untuk membuat karangan narasi, dimulai dengan pemilihan masalah. Setelah masalah dipilih, penulis harus menjaga tiga prinsip dalam pikiran, yaitu:
1.    Jangan lupa untuk melibatkan pembaca dalam cerita. Adalah jauh lebih menarik untuk benar-benar menciptakan sebuah insiden untuk pembaca dari pada hanya menceritakan tentang hal itu.
2.    Cari generalisasi, yang mendukung cerita. Ini adalah satu-satunya cara pengalaman pribadi sang penulis akan mengambil makna bagi pembaca. generalisasi ini tidak harus meliputi umat manusia secara keseluruhan, yang dapat perhatian penulis, pria, wanita, atau anak-anak dari berbagai usia dan latar belakang.
3.    Ingat bahwa meskipun komponen utama dari narasi ceritanya, rincian harus hati-hati dipilih untuk mendukung, menjelaskan, dan meningkatkan cerita.


Tinambunan, J dan Karsinem. 2012. Bahan Ajar Keterampilan Menulis. Pekanbaru : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Islam Riau.

Tukan, P.2006. Mahir Berbahasa Indonesia SMA Kelas X. Jakarta : Yudhistira.

 Ryanskiep. “Pengertian Karangan dan Contoh Karangan Narasi”. http://ryansikep.blogspot.com/2009/12/pengertian-karangan-dan-contoh-karangan.html. Rabu, 30 Desember 2009.

Zaenal, Arifin dan Amran Tasai. “Jenis-Jenis Karangan Narasi”. http://makalahpendidikan.blogdetik.com/pengertian-karangan-narasi/. Januari 2012.









 

 

 

 

 

 

 


 




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar