Hai, selamat malam.
Sudah lama aku tak menyapa dan menulis di blog yang biasanya menjadi buku harianku.
Hari ini, aku merasa sedikit kelelahan karena pekerjaan yang aku jalani sebagai operator di sekolah.
Sedari kemarin aku sudah berniat menumpahkan segala kesedihan dan kebahagiaan yang aku rasakan. Kebahagiaanku berawal pada tanggal 17 Oktober 2015 karena wisuda ku. Kebahagiaan terus berlanjut pada tanggal 17 November 2015, ya aku ditunang oleh kasihku Herman. Mungkin ini keadailan dari Tuhan, belum genap satu bulan pertunanganku Tuhan menguji ku. Tuhan mengujinya, menguji keluargaku dan menguji keluarganya.
Awalnya dia di fonis terserang gejala hepatitis. Seminggu menjalani perawatan di puskesmas dan akhirnya harus dirujuk ke rumah sakit daerah. Kekecewaan dan amarah hadir mengusik hatiku. Selama satu minggu difonis terserang gejala hepatitis dan meminum obat untuk mencegah hepatitis, tapi ternyata dia terserang DBD. Aku marah, aku kesal kenapa harus salah fonis. Kini dia harus sering kontrol ke RSUD Arifin Achmad setelah hampir lebih dari tiga bulan pulang-balik dan menjalani rawat inap. Sekarang dia menderita anemia aplasi. Sebagai calon istri, aku hanya bisa memberi semangat kepada orang yang aku sayang.
Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuknya. 167 kantong darah sudah ditransfusi ke tubuhnya, sekarang kondisinya Alhamdulillah sudah mulai membaik. Semoga akan terus membaik dan sembuh. Semoga Tuhan mengizinkan kami hidup bersama, agar kami bisa beribadah bersama-sama. Semoga doa tulus dari semua keluarga dan teman-teman dikabulkan Tuhan. Terimakasih buat semuanya. Ayang, terus semangat, yakinlah Tuhan akan memberi ayang kebaikan. Aamiin.
Senin, 22 Februari 2016
Minggu, 17 Mei 2015
No Romantic
Cling cling cling, ku dengar gemrincing dari gelang kaki yang ku
pasang di kaki kucingku. Aku menggeliat menepi bantal doraemon kesayanganku. Hem…
aku mengulat lagi dan lagi, kulihat jam pada layar hanpone ku. Sudahpukul 06:00
pagi, aku tertinggal waktu salat subuh. Bergegas aku berlari mengambil air
wudhu, salat dan segera ku rapikan kamar tidurku yang penuh dengan boneka
doraemon.
Terlintas kenangan manis bersama teman-teman saat masih di
bangku putih dongker. Hem, aku
seperti ini karena laki-laki yang membuatku nyaman sejak mengenalnya. Aku merubah
penampilan menjadi lebih feminim mengikuti keinginannya yang tidak menyukai
wanita tomboy. Perlahan rambut pun ku biarkan panjang sebahu, rajin memakai
bendo dan jepit rambut warna-warni, memakai anting layaknya wanita. Dia menerangiku
selama ini.
Pagi ini usiaku sudah dua puluh dua tahun, aku bukan lagi ABG
yang harus menemukan jati diriku sendiri. Aku sudah semester akhir di sebuah
Universitas, menyusun karya ilmiah sebagai tugas akhir dan syarat mendapat
gelar sarjana setrata satu. Segala keegoisan, kelemahan, kelebihan yang aku
miliki sudah dia pahami. Yah, walau pun begitu dia masih selalu cemburu saat
mendengar suara laki-laki dekat yang dekat denganku. Kami long distance semenjak
aku memasuki jenjang Putih abu-abu sampai saat ini. Komunikasi terjalin melalui
hanpone, terkadang aku bosan dengan cara ini tapi apa boleh buat.
Empat belas hari lagi happy
anniversary ke delapan. Aku tidak menginginkan apa-apa darinya, aku hanya
berdoa semoga segala sesuatu tentang kami indah tepat pada rowaktunya. Dia bukan
tipe laki-laki yang romantis, bukan laki-laki yang peka terhadap keinginanku. Aku
tetap bersyukur dan berterimakasih pada Tuhan, telah dia kirimkan sahabat
terbaik atas kelahiranku.
Romatis, ya itu yang sebenarnya aku inginkan darinya. Tapi romantis
bukanlah sifat yang mudah dia lakukan untukku. Selama ini bilang cinta ke aku
aja bisa dihitung, jangankan bilang “aku mencintaimu” la wong bilang aku cantik
aja selama tujuh tahun baru sekali. Kejam banget dia tuh, laki-laki lain ajah
mudah bilang aku cantik, pacar sendiri susah bilang gitu.
Aku ingin setiap hari ada yang ngasih bunga mawar merah untukku
walau setangkai, tapi gak mungkin kan? Jangankan bunga mawar merah bunga rumput
pun dia gak bakalan ngasih ke aku. Sudah nasibku punya pacar yang gak romantis.
Haha ha aku jadi ingat waktu kami jalan-jalan ke taman Kota Pekanbaru. Gak ada
niat jalan-jalan ke sana tapi aku bingung mau jalan ke mana. Baru sampai di
sana aku melihat insan berpasang-pasangan baring-naring di rumput hijau, saling
pegangan tangan dan bercanda mesra. Aku cuek aja ngikutin sifat dia, kami sibuk
mencari tempat yang nyaman untuk bercerita. Kami menemukan tempat yang
strategis, dekat dengan musolah, dekat dengan toilet, dekat dengan penjual
jajanan ringan.
Wah, wah, rasanya ingin segera duduk dan meneguk air mineral
yang ku bawa sedari tadi. “Ayang, pindah yok jangan di sini, cepet kok.” Glek,
belum sempat aku meneguk air dia udah mau pergi ajah. Aku sedikit kesal sih
masa dia seenaknya aja kayak gitu, mana tangan aku ditarik kenceng banget trus
dibawa lari-lari lagi. Dan anehnya lagi, dia malah milih duduk di dekat
rombongan orang-orang yang sudah berkeluarga. “Oh my God, what happen?”
pertanyaan dengan tanda Tanya yang titiknya sebesar kepalaku.
“Mau air dong Ay!” cepet-cepet aku sodorkan air yang ku pegang. Aku
diem ajah gak komentar apa pun. “Ayang beli jajan deh, buat cemilan.” Kali ini
aku menolak dengan alasan aku membawa bekal dari rumah. Perlahan suasana mulai
tenang dan kembali seperti biasa. “Kenapa si harus duduk di sini? Lebih nyaman
di sana, sejuk, gak banyak sampah.” Aku menggerutu pelan tanpa melihat
wajahnya. “tuh liat, tuh liat, mau liat yang kayak gituan apa?” tiba-tiba dia
menunjuk kea rah tempat kami tadi datangi, ternyata di sebelahnya ada tiga
pasang remaja yang sedang berciuman mesra. “Ayang gak malu apa liatin kayak
gituan?” lagi-lagi dia membentak, aku Cuma diem dan menunduk.
Waktu terlewatkan begitu saja
tanpa sepatah kata dariku. “Ayang, maaf ya, Mas gak bisa kayak mereka,
Mas malu.” Aku takut dia salah menilai aku, aku takut dia mengira aku ingin
melakukan seperti orang-orang yang dilihatnya. Alhamdulillah, dia gak mikir
yang aneh-aneh tentang aku. Saat itu aku sadar, akulah wanita beruntung yang
mendapatkan laki-laki tidak romantic, laki-laki yang tulus menjagaku sampai
detik ini. “Yuk, pulang udah sore, kayaknya mau ujan.” Dia mengelus kepalaku
layaknya kakak pada adiknya. Tuhan terimakasih, tetaplah lindungi cinta kami. Agar
tetap hidup sampai tiba saatnya bagi kami untuk mengembalikan cinta ini kepada
Mu. Indahnya perasaan ini akan ku jaga untuknya. Aku akan setia memilikinya. Terimakasih
Tuhan.
Sabtu, 16 Mei 2015
Catatan Dafari Hirotama
Bukan Fiktif Belaka
Maret 2006
Pertemuan di bawah langit biru di tepi
sungai yang tak pernah terlupakan. Sifat cuek dan acuh yang membuatku penasaran
ingin mengenalnya lebih jauh. Hari-hari yang terlewati tanpa makna apa pun. Menunggu
dan selalu menunggu sesuatu yang tak akan pernah terulang. Walau dalam ifilsafat
mengatakan bahwa segala sesuatu yang telah terjadi pasti akan terulang kembali.
Hal apa pun itu, bedanya tidak pada waktu yang sama dan orang yang sama.
Mei 2006
Penantian yang selama ini ku lakukan tak
pernah terwujud. Aku putus asa menjalaninya, aku tersadar ternyata dia
benar-benar pergi. Terpaku diam di bawah terik matahari di langit biru. Bisuku akan
segera ku akhiri bersama datangnya masa depan Indah. Aku tak akan mengingatnya
lagi, ya… aku akan melupakannya.
Juli 2006
Kepergianku tak akan pernah membuat dia
kembali pada posisi tempatnya berdiri hari itu. Aku terlalu melukainya. Aku tak
berdaya melepasnya, tapi apa yang harus ku lakukan? Aku hanya akan membuatnya semakin
terluka jika tetap bertahan di sisinya.
Agustus 2006
“Hiro, waktunya berangkat!” aku
Dafari Hirotama, akan segera meninggalkan Negeri Sakura yang indah. Amerika adalah tujuan utamaku. “Mika, tetaplah berdiri kokoh seperti saat belum bertemu aku.” Aku meninggalkan selembar kertas dengan tulisan itu di dalam sebuah botol yang aku tanam di bawah pohon sakura di tepi sungai. Ya tempat awal aku bertemu dengannya, aku akan selalu mencintai langit birumu.
Januari 2007
Hari ini terasa berbeda dengan hari-hariku
sebelumnya. Tak ada lagi pemandangan bunga sakura, tak ada lagi shusi
kesukaanku buatan ibu. Perlahan aku mampu melupakannya dan memulai hidupku yang
baru. Masih seperti yang dulu, aku selalu membawa camera yang ku kalungkan di
leher, memotret segala sesuatu yang membuatku merasa bahagia.
Agustus 2009
Dua tahun telah berlalu, sebenarnya aku tak
ingin kembali ke negeri Sakura tempatku dilahirkan. Setelah study ku selesai
aku ingin pergi ke Indonesia memilih tinggal bersama ayahku bukan ibuku. Tapi aku
harus tetap pergi menjenguknya sekali dalam satu tahun. Keputusanku bulat
memilih tinggal bersama Ayah di Indonesia, Negara beriklim Tropis yang akan
membuatku memiliki kulit kecoklatan seperti kulit ayah. Yosshhh….. study ku
benar-benar selesai. Aku mengirim sepucuk surat untuk ibu, menggunakan Bahasa Indonesia
yang aku kuasai sejak aku kecil.
September
2009
Moshi
moshi Ibu…
Usiaku kini sudah lebih dari 22th, aku ingin menjalani hidupku yang seutuhnya. Aku ingin pergi dan tinggal di Indonesia bersama ayah. Don’t worry, aku akan menjengukmu sekali dalam setahun. Aku ingin menjaga ayah seperti yang ibu inginkan. Ibu harus bahagia bersama adikku di situ, tak perlu khawatir ayah pasti akan mengajariku beradaptasi di sana, sama seperti saat ayah membantu ibu beradaptasi dengan lingkungannya dulu.
Love
U
Hiro
|
Oktober 2009
Hem,,, ibuku asli orang jepang dan ayahku
asli Indonesia. Aku terlahir sebagai orang blasteran Jepang-Indonesia. Ibu dan
ayah bercerai saat aku masih duduk di bangku SMA tahun pertama. Awalnya aku tak
merasa terganggu dengan setatus keluargaku. Lambat laun aku kehilangan
kebahagiaan. Lima tahun yang lalu, pergaulanku sama seperti remaja seusiaku. Bergembira
dan selalu riang, tapi suatu perceraian ibu dan ayah melewati usia dua tahun
aku hancur. Saat itulah aku mulai menyendiri dan menjauhi teman-temanku. Setiap
sore hari aku selalu berjalan sendiri melewati jembatan yang membentang
menyeberangi sungai.
Semakin sering ku seberagi jembatan itu
semakin damai aku menjalani hidup. Sekian lama aku melakukan aktivitas itu, aku
baru tersadar bahwa jika aku datang lebih awal dari waktu biasanya aku akan
melihat pemandangan yang sangat indah dari bawah sakura di tepi sungai. Yah,
itu benar, pemandangan yang lebih indah dari dugaanku sebelumnya. Ku lihat
sosok wanita cantik dengan tas kecil yang disandangnya. Awalnya hanya iseng
memotretkan cameraku ke arahnya, tapi semakin sering kulakukan pemandangan
indah di hadapanku tampak janggal tanpa kehadiran wanita itu.
Sore ini, mata cameraku tak mendapatkannya
lagi. Aku pun putus asa dan memutuskan untuk pergi. Ku kayuh sepedaku
meninggalkan sakura yang indah. Kembali kujalani sekolahku di bangku SMA kelas
tiga tahun pertama. Aku punya teman yang keren abis. Tentunya aku tak kalah
dari dia, Nazomi namanya. Saat aku selesai dari lapangan bersama Zomi, seorang
gadis berambut pirang menghampiri Nazomi. Tampaknya gadis itu menyukai Zomi,
tapi saying Zomi lebih memilih temannya. Temannya tak mau menjawab pertanyaan
Zomi, aku tahu dia merasa tidak nyaman pada temannya, Yuka. Eh, teman Yuka
berusaha menghindari Yuka dan membiarkan Zomi berbicara pada Yuka. Dia menabrakku
karena berjalan sambil menunduk. Aku melihat Yuka tersenyum dan bercerita
padanya, “Mika, aku mendapatkan no hp Zomi, tapi apa yang harus ku lakukan? Dia
menyukaimu.”
Aku tahu namanya, Mika. Sejak hari itu aku
selalu mengawasinya di mana pun ia berada. Suatu ketika aku menemukan hp nya di
atas meja perpustakaan. Aku yakin dia pasti mencarinya. “Moshi moshi, aku
menemukannya.” Suara mika di perpustakaan. “Wakata!” hanya itu yang aku
ucapkan. Malam hari Mika menelfonku. “Arigatho, sudah mengembalikan hp ku. Tapi
semua contack kenapa hilang?” pertanyaan yang aku tunggu “Yuph, aku
menghapusnya dan no kamu sudah aku save. Jika mereka membutuhkanmu mereka akan
menghubungi mu” Pertanyaannya semakin banyak, sepertinya dia penasaran.
Perceraian ayah dan ibu lenyap. Setiap malam
aku menelfon Mika. “Moshi moshi Mika? Apa yang kamu suka?” aku mengetahui
kesukaannya, bunga keci berwarna putih dan perpustakaan yang sepi tanpa suara
apa pun. “Mika, coba lihat ke langit!” pintaku padanya. “Huh,,, sudah pagi. Hah..
pesawat asap di langit biru.” Aku mendengar suara kantuknya “Mika, kamu
melihatnya? Ambil gambarnya, ini adalah moment pertama kita di pagi hari.” Sepertinya
Mika menuruti kemauanku karena dia meminta izin untuk mematikan telfonnya dan
memotretnya.
Aku masih belum bisa memberi tahu siapa
sebenarnya aku pada Mika. Aku hanya bisa memerhatikannya dari jauh walau dalam
satu sekolah. “Moshi moshi, yaup Mika?” dia menelfonku. “Moshi, ulang tahun
kali ini tak seindah ulangtahun yang telah lalu, orang tuaku bertengkar, aku
dan kakak terabaikan.” Mika curhat padaku, orang yang selalu memperkenalkan
diri padanya dengan nama “Rahasia”. “Woi Mika, mari kita rayakan besok di kolam
rengang sekolah sebelum upacara. Walau telat satu hari harus tetap dirayakan,
aku bersemangat.”
Pagi hari yang cerah dengan langit biru. Kuhampiri
Mika dan menyodorkan seikat bunga kesukaannya. Dia terkejut melihatku, sangat
terkejut. “Oi Mika Happy birthday!, aku Hiro kelas tiga C, kenapa kamu
berdandan seperti Itu? Tidak seperti Mika yang biasanya.” Mika hanya diam dan
menatapku dengan takut. “Bunga itu pasti menangis!” hanya itu yang diucapkannya
dan berlari meninggalkanku di tepi kolam renang.
Kejadian pagi tadi membuatku merasa harus
menanam bunga yang ku cabut dari taman sekolah. Usai jam pelajaran aku meminta
sekantong pupuk bunga pada pejaga kebun sekolah dan berlari menuju taman kota. Aku
menanam bunga di sana, kutaburi bunga itu dengan pupuk biar subur. “Hiro, apa
yang kamu lakukan?” Mika berdiri di belakangku dan memerhatikan aku. “Menanam
bunga kesukaanmu dan memberinya pupuk agar subur.” Ku sirami bunga itu, ku
arahkan selang penyemprot pada Mika, dia terlihat marah dan menunduk, “Oi Mika
lihat!” ku tunjuk pelangi melengkung dari smprotan air yang ku arahkan ke
matahari yang menghasilkan biasan cahaya berwarna-warni. “Oi Mika, ini untuk
hadiah ulang tahunmu.” Mika mulai tersenyum dan tertawa kecil.
Keesokan harinya aku tunggu Mika di
perpustakaan. “Mika, ke perpus sekarang aku tunggu.” Sent! Sms telah ku kirim,
tak lama Mika menghampiriku “Hiro, ada apa?” dia gadis polos yang pertama kali
ku kenal. “Yuk bolos, aku ajak ke tempat faforitku.” Ku kayuh sepeda menuju
tepi sungai setelah menyebrangi jembatan panjang. Ku hentikan sepedaku dank u Tarik
Mika yang duduk di boncengan. Mika terdiam lalu tersenyum, “Hiro, apa kamu
selalu ke sini setiap hari?” pertanyaan yang sama dari semua orang saat
melihatku berdiri di tepi sungai ini. “Yuph, aku senang berada di sini.”
Mika, tak bertanya lagi. Dia memandangiku. “Jadi
Hiro benar menyukai sungai, mengalis kemanapun dan membawa segala hal
bersamanya.” Aku tersenyum “Aku ingin jadi langit biru, agar bisa selalu
melihat ayah dan ibu di mana pun mereka berada.” Mika tersenyum mendengarku “Ya..
aku juga ingin menjadi langit biru, agar bisa tersenyum selalu bersama Hiro.”
Kami semakin dekat, “Mika, mari kiata
berhenti berteman.” Perkataan bodoh yang akan memberi resiko dalam perjalanan
hidupku, bahagia atau menangis. Aku teriak saat Mika menganggukkan kepala dan
ingin mengakhiri hubungan pertemanan kami. Ku peluk Mika dan ku ajak dia ke
rumahku. “Hei bu, ini Mika kenalkan.” “Oi Mika.” Ku ajak Mika ke kamar dan menceritakan
kebahagiaan yang ku dapatkan hari ini. “Arigatho Mika, kamu mau jadi pacarku.” Mika
tersenyum lalu memandang ke luar jendela melihat langit biru. “Mika, yuk ambil
gambar.” Klik… “ha ha ha ha ha…. Jelek sekali hanya ada mata kirimu, mata
kananku dan langit biru di luar.” Mika tertawa. “Oi Oi… ini momen kita bersama.”
Celetusku.
Lima
bulan telah berlalu. “Mika, temani aku!” ku ajak kembali Mika ke bawah pohon
sakura di tepi sungai. “ini untuk mu Mika.” Ku sodorkan beberapa foto yang ku
ambil saat ayah dan ibu baru bercerai. Mika terkejut melihat dirinya ada di
dalam foto itu. “Aku baru tahu kalau itu kamu Mika, wanita yang membuat
pemendangan indah di sini hilang karena ketidakhadirannya, wanita yang membuat
aku ingin cepat pergi dari sini saat aku tak menemukannya, sekarang aku
benar-benar memilikinya.” Mika tersenyum dan memegang kedua pipiku dengan
tangannya yang halus. “Hiro, makasih selalu membuatku melambung setiap hari,
menduduki singgah sana cinta tertinggi yang indah ini.” Mata Mika mulai
berkaca-kaca, langsung ku peluk dia dengan erat.
Setelah peristiwa kemarin, membuatku
mengingat perceraian ayah dan ibu. Aku kembali terpukul, ibu menikah lagi
dengan lelaki beranak satu. Ku habiskan waktu di bar dengan tujuh botol minuman
keras di hadapanku. Aku mabuk, tak tahu mana arah jalan pulang. Ku lihat cahaya
sangat terang menghampiriku membuatku tak sadarkan diri.
Ku buka mata, Mika berada di sampingku
tertidur dengan menggenggam tanganku. Ternyata aku koma sudah lima hari, cahaya
itu adalah mobil truk yang menabrakku. Aku hanya luka tak berarti di bagian
lutut dan siku, tapi dokter memberi tahuku agar segera kerumah sakit jika
kepalaku pusing setelah keluar dari rumah sakit. Mika mengantarku pulag bersama
ibu dan ayah baruku. Waktu terus berlalu hingga aku lulus sekolah.
Satu tahun setelah aku menganggurkan diri
untuk tidak melanjutkan pendidikan, aku memutuskan Mika tanpa memberi alasan
kepadanya. Mika tak menginginkanku memutuskannya tapi aku tetap memutuskannya. Mika
masih sering ke rumahku dan selalu
disambut hangat ibu adikku. Tapi kali ini aku yang mengundangnya melalui Yuka. “Oi
Mika, apakah kamu datang ke rumah Hiro bersama denganku dan Zomi, dia bilang
rumahnya kosong karena ibunya ke Indonesia bersama adik dan ayahnya jadi dia
ingin berpesta.” Yuka mengajak Mika bersama ke rumahku. “Tidak, biar akusendiri
yang ke sana.” Sebelum Mika dating aku dan teman-teman sudah memulai pestanya,
aku berpura-pura mabuk seperti teman-teman yang lain.
Malam semakin larut, aku berusaha tak
tertidur menjaga Mika dari teman-temanku yang mabuk. Aku melihat Zomi mencium
Mika dalam kondisi manuk, Mika mendorongnya dan berlari ke luar menuju kamar
mandi. Saat Mika kembali aku sengaja mencium temanku Ashika yang mabuk berat. Aku
tahu ini sangat melukai Mika. Mika tak jadi masuk ke kamar, aku melihatnya
melalui jendela dia berlari meninggalkan rumahku.
“Hiro, ini sms ku terakhir untukmu. Sampai kapan
pun aku tak akan berhenti mencintaimu. Aku ingin berbicara denganmu. Aku tunggu
di tempat faforitmu besok sore, jika kamu tak datang aku benar-benar menyerah dan
berusaha berhenti mencintaimu.” Aku sngaja dating terlambat dua jam berharap
dia sudah pergi dari sana, ternyata aku salah dia benar-benar menungguku. Aku tidak
turun dari sepedaku, bahkan aku berteriak dan melempar cincin yang Mika
lemparkan padaku saat aku memutuskannya. “Ku rasa kamu sudah bahagia dan
melupakan aku, semalam aku lihat kamu mencium Zomi.” Aku berteriak “Bukankah
kamu yang mencium dan bercumbu dengan wanita lain.” Mika membantah “Oi Mika,
aku tidak akan menghapus air matamu lagi, jadi percumah.” Aku pergi
meninggalkan Mika yang berusaha mengejarku dengan berlari, sebenarnya aku
menangis tapi aku yakin inilah terbaik untuk Mika.
Sudah lebih satu tahun tidak bertemu Mika,
aku merindukannya. Aku berusaha mnelfonnya namun tak pernah di angkat. Aku kirim
sms agar dia menemuiku di tempat faforitku tapi dia tak datang. “Mika, aku
hanya ingin mengucapkan selamat tinggal, aku ingin melanjutkan study ke
Amerika.” Penantianku sia-sia.
Yah, itulah ceritaku sebelum aku memutuskan
kuliah di Amerika dan memilih Indonesia sebagai tempat tinggal baruku. Aku ingin
melupakan Mika, walau sebenarnya sampai kapan pun aku tetap menunggunya. Pernahkah kamu duduk di
singgasana cinta tertinggi? Singgasana yang menjadikanmu raja cinta bahagia,
tapi kamu sengaja menjatuhkan dirimu sendiri dari singgahsana itu, kamu gak
cacat sih, Cuma kamu gak bisaberdiri tegak seperti dulu lagi. Mika, memang aku
yang mengakhiri hubungan ini. Karena aku sudah merasakan sakitnya putus cinta
aku tak akan merasakan cinta lagi. “Mika, tetaplah kuat dan tersenyum seperti
saat tak mengenalku.” Mika, saat kamu tahu semua tentang ini, aku ada di langit
melihatmu. Jika engkau bahagia maka aku akan berwarna biru, jika kamu merindukanku,
aku pasti berwarna merah pada senja hari, jika hujan turun maka aku tahu kamu
sedang bersedih, lalu saat gelap malam dating rasakanlah aku selalu memelukmu.
Tiga tahun akau belajar Bahasa Indonesia,
akhirnya aku bisa berbahasa Indonesia dan mampu membaca tulisan Bahas Indonesia. Aku seperti orang bodoh, baka!
baka! setelah membaca diary Hiro yang hanya bertuliskan tentangku. Hiro
memutuskan aku bukan karena tak mencintaiku. Tapi karena tak ingin membuatku
menderita harus kehilangannya. Hiro tak pernah bercerita kalau kecelakaan itu
menyebabkan kangker di kepalana. Hiro, maafkan aku membuat penentianmu sia-sia.
Ternyata sakitku tak sebanding dengan sakit yang selama ini kamu rasakan. Hiro,
aku akan selalu ingat, jika langit biru kamu bahagia bersamaku, jika langit
berwarna merah wajahmu merona karena tahu aku merindukanmu, jika hujan maka
kamu bersedih bersamaku, dan jika malam datang akan ku rasakan kehangatan
pelukanmu. Hiro, kita akan bersatu di sana.
Rabu, 15 April 2015
Baka Usui
Sinar keemasan mentari pagi yang
membangunkan ayam jantan selalu saja dating tepat waktu. Aku siswi disalah satu
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Provinsi Riau yang terkenal
dengan sumberdaya alamnya yang besar. Setiap pagi aku harus bangun saat mendengar
kokok ayam jantan milik tetangga. Yah, ayam itu adalah alaram alami bagiku,
setiap pukul 05:00 pagi pasti selalu bernyanyi dengan lantang.
Berbeda dengan har-hari yang
telah lalu, aku mulai jarang bangun pagi dan hampir selalu meninggalkan salat
subuh karena kelelahan. Yah.. banyak aktivitas yang harus aku lakukan di
sekolah sebagai ketua Organisasi Intera Sekolah (OSIS). Sebenarnya bukan alasan
bagiku untuk meninggalkan salat, karena dasarnya aku saja yang pemalas.
Suatu hari, aku mendapatkan
anggota baru. Yah, anggota baru, dia seorang laki-laki tampan yang baru saja
pindah di sekolahku. Sebenarnya aku sedikit khawatir dia akan merebut
jabatanku. Siapayang tidak khawatir coba, dia yang baru satu bulan pindah
sekolah langsung menduduki jabatan wakil OSIS. Yah memang karena dia cerdas dan
pemberani serta tanggap dalam segala hal. Aku yakin, sbenarnya dia lebih pantas
di posisi ketua, bukan wakil.
Sbenarnya aku tidak ingin ada
satu pun yang tahu kalau aku adalah salah satu pelayan di kafe yang semua
pegawainya adalah wanita. Tapi, dia mengetahui siapa aku karena membuntutiku
sepulang sekolah. Oh iya, maaf aku lupa tidak memperkenalkan siapa aku, Ayuzawa.
Yah namaku Ayuzawa Misaki, keturunan jepang yang tinggal di Indonesia. Usiaku
16 tahun, namun aku adalah wanita tangguh yang selalu ada untuk adikku, ibuku,
teman-temanku dan terutama untuk pekerjaanku.
Oh iya, aku pekerja paruh hari
yang selalu pulang pada malam hari. Nama kafe tempat aku kerja itu Kafe
Anda. Nama yang sesuai dengan para pekerjanya yang melayani dengan sepenuh
hati. Aku juga punya manajer yang sangat baik, Mira namanya. Kafe tempat aku
bekerja adalah kafe yang selalu berganti tema setiap minggunya. Kadang bertema
penyihir, maka pada saat tema itu aku dan semua pelayan berpenampilan sebagai
penyihir cantik yang melayani pelanggan dengan sihir kebahagiaan.
Kita kembali ke sekolah deh.
Orang yang aku takuti itu bernama Takumi Usui, yups kamu benar banget, dia juga
keturunan Jepang. Selama dalam jabatannya sebagai wakil OSIS, dia selalu ada di
sampingku. Aku kagum padanya, dia laki-laki yang menjadi idola bagi wanita yang
melihatnya. Rambutnya keren banget, warnanya pirang, cocok sama warna kulitnya
yang putih. Tapi, entah kenapa aku selalu merasa dia adalah laki-laki cabul. Ih
masa dia mencium Doni si sekretaris Osis, dia bilang kalau gak suka ama wanita.
Semenjak kehadirannya di
sekolah, semua ekstrakurikuler menjadi ramai. Yah terutama ekskul sepak bola
dan basket. Usui itu laki-laki yang dingin pada wanita, aku selalu memarahinya
dan menyalahkannya dalam segala hal untuk menutupi ketakutanku, aku panggil dia
Baka Usui yang artinya Usui bodoh. Hem,,, dia tidak keberatan, bahkan saat kami
berdua aku selalu memanggilnya Elien mesum. Hingga suatu hari kami berdua
berada dalam keadaan yang salah. “Baka usui, ngapain kamu dating kesini dalam
keadaan basah kuyup?” aku berteriak di ruang OSIS karena terkejut kehadirannya
mengalihkan konsentrasi Doniyang merasa malu karena pernah diciumnya.
Tanpa lama berfikir Doni mengulurkan tangan padanya “Usui, gunakan sapu
tanganku untuk mengeringkan wajahmu itu!” tanpa ada rasa malu padaku ia
mengambilnya. Datanglah dua orang siswa memakai kaos olahraga menceritakan
kejadian yang telah mereka alami. Ternyata Usui tidak bersalah, dia hanya membantu
orang lain menghidupkan keran dengan cara menendangnya karena kran itu terlalu
keras dibuka.
Seperti biasa, aku harus cepat
pulang dan bekerja. Semua mata tertuju pada sosok laki-laki yang baru memasuki
kafe tempatku bekerja. Mungkin hanya aku saja yang tidak merespon kehadirannya.
Aku terkejut sangat kepalang ketika harus menggantikan cef yang tidak hadir
hari ini karena sakit. “Misaki, maafkan saya ya, kamu harus lembur mala mini
dan mengerjakan semua tugas Lora!” menejerku selalu merasa tidak enak saat
harus meminta bantuanku, padahal aku merasa bahagia.
“Waahh, ada pekerja baru….”
Semua teman-temanku merasa bahagia karena kehadiran Usui sebagai pengganti Sef
di kafe. “Misaki, biar aku gantikan pekerjaan sef Lora!” aku berbalik dan
hampir menabrak tubuh jangkung Usui. “Hah… di sini tidak boleh ada pegawai
laki-laki, apa yang kamu lakukan di dapur?” teriakku pada Usui yang lagi-lagi
menjadi peneolongku setelah dia menolongku dari kecelakaan di taman sekolah.
“kalau begitu ayo kita coba kenikmatan masakkan mu Usui.” Menejerku menarik
lengan Usui dan menyerahkan beberapa bahan makanan. “Baka Usui….” Geramku
padanya.
Hari itu berlalu dengan
diterimanya Usui sebagai sef di kafe. Hari yang membuat aku merasa benci kepada
semua yang Usui kerjakan di hadapanku. Sampai di sekolah pun aku tetap tidak
peduli dengannya. Begitu seterusnya hampir satu minggu. Pada hari yang lain aku
sengaja cuti bekerja karena aku janji kepada ibu untuk membetulkan jendela
kamarku karena daun jendelanya hampir terlepas setelah tertimpa batang pohon
palam yang tumbang ke arah kamarku.
“Aku pulang……” saat aku memasuki
rumah dan langsung ngeloyor memasuki kamar. Aku terkejut, jendela kamarku sudah
selesai dibetulkan. Aku hampir berlari menuju ruang makan. Ku dengar sndau
gurau ibu, adikku, dan seorang laki-laki, “Apa mungkin itu pacar baru ibu?”
gerutuku. “Hah…. Baka Usui, apa yang kamu lakukan di rumahku, kamu selalu saja
membuntutiku!” aku berteriak di depan mereka yang membuat ibu terkejut dan
meminta maaf pada Usui. Aku langsung menarik Usui keluar dari rumah menuju
taman sekolah kanak-kanak tepat di depan rumahku.
“Apa maksud kamu ngikutin aku
terus, kamu belum puas membuat aku khawatir dengan keadaan aku sebagai pelayan
kafe di depan semua teman-teman sekolah? Kenapa kamu selalu ingin tau identitas
aku?” aku marah terus tanpa memberi Usui kesempatan untuk menjelaskan kejadian
yang sebenarnya. Ternyata Doni dan Irwan baru pulang dari sekolah, mungkin
karena aku meninggalkan mereka dengan pekerjaan yang banyak tadi. Sepertinya Doni
dan Irwan salah paham, pasti mereka salah paham.
Keesokan harinya aku baru tahu
dari adikku Oni, kalau Usui membantu ibu saat buah apel yang dibelinya jatuh
karena kresek yang bolong, lalu Usui membantu membetulkan jendela kamarku.
“Usui, kenapa harus kamu.” Di sekolah yang sedang sibuk karena akan diadakan clas meeting setelah
ujian semester, membuat aku harus cuti bekerja. Lagi-lai usui yang membuat
wanita satu sekolah heboh dan berteriak histeris karena kepandaiannya bermain
basket. Ternyata Usui laki-laki hebat yang bisa dalam segala hal. Namun terlalu
sulit bagiku untuk mengakui kehebatanya karena terlanjur tersimpan di otakku
bahwa Usui adalah elien mesum. clas s meeting selesai
dengan diakhiri pengambilan rapor oleh wali murid.
Liburan akhirnya datang, aku
memutuskan untuk berlibur bersama menejer dan teman-teman sesame pegamai kafe.
Akulah yang sangat bersemangat, yah karena aku akan ke Sumbar, provinsi yang
memiliki pantai. Aku lebih dulu sampai daripada teman-temanku. Aku memakai
setelan kaos oblong dengan jeans sepanjang lutut, yah memang berbeda dengan
teman-temanku yang feminim. Sampai di penginapan kami disambut oleh Orie kakak
sepupu menejerku yang juga memiliki kafe di tepi pantai. Kafenya lumayan besar
tapi saying sepi pengunjung.
Lora dan menejerku mengajak aku
berenang, yups aku tidak menolaknya. Aku segera memasuki kamar dan mengganti
baju. Aku terkejut kenapa ada Usui di teras kafe. “woi woi woi, apa yang kamu
lakukan di sini, tidak bosan kamu ikuti aku terus?” Usui melawan “aku diajak
menejer ke sini, katanya jadi pengawa!!l” “OOOO,,, baiklah aku pergi…” aku
berlari meninggalkan Usui dan langsung mencebur, berenang tanpa peduli siapa
pun. “Hah, pakaian renang sekolah?” Sayra melirikku yang sedang asik berenang,
“Yups, Misaki adalah wanita hebat yang selalu ingin menggunakan beasiswanya
dengan baik.” Gumam Liora. “Usui, maukah berenang denganku?” Lena mengajak
Usui, namun Usui melengos pergi danmelambaikan tangan. “oi oii, dia hanya
tertarik pada Misaki.” Gumam menegerku ke Lena, “Ia, betapa kecewanya dia,
karena kecuekkan Misaki.”
Sudah hampir dua jam aku
berenang, saat aku melihat kea rah pantai ternyata aku sudah terlalu jauh. Ku
lihat posisi kafe yag aku tinggali sangat jauh posisinya dari keramaian. Yah
akau berfikir mungkin itu penyebab kafenya terlalu sepi. Aku kembali berenang
menghampiri teman-teman. Meneger, Liora, Lena, dan Orie sedang merencanakan
sesuatu. “Jangan bilang kalian mau jadi pelayan di hari libur seperti ini.”
Celotehku. Ternyata dugaanku benar, mereka membantu Orie agar kafenya ramai.
Aku berjalan ke belakang kafe, di sana aku temui adik Orie yang sedang
membersihkan lantai kamarmandi. “Biar aku bantu.” Menawarkan diri berbuat baik
kepada Danu. “Wanita hanya boleh bermain di dapur, bukan di sini.” Celetusnya ke
padaku. Sepertinya Danu membenciku yang bergaya seperti laki-laki, sedangkan
dia selalu gemarberpakaian wanita menggunkan wig berwarna biru. Aku tahu dia
membenciku karena dia mengira aku pacar Usui.
Setelah satu jam membersihkan
lantai kamar mandi aku berjalan ke depan, ternyata menejerku dan teman-teman
bekerja sungguh-sungguh memberikan haraga Cuma-cuma untuk mencari pelanggan
yang akhirnya meramaikan kafe. Aku tidak tega melihat mereka yang kesibukkan,
aku mendekati Lena hendak meminjam celemk dan pakaian renang wanita. Aku
berlari mengganti bajuku dengan pakaian renang yang bagian punggungnya terbuka
dan bagian depannya tertutup oleh celemek. Saat aku sedang mengikat celemek
kebagian belakang…”Apa yang kau lakukan Misaki,,,???” “oi oi oi Elien mesum,
hampir saja…” “apa kamu mau keluar dengan dandanan seperti itu?” usui bertanya
dengan nada keras ”Apa masalahnya? Aku ingin membantu mereka, dan inilah
pakaian yang harus aku pakai, walau terbuka berbeda dengan pakaian di kafe
kita. Aku pergi dulu jangan tidur ja, bantu Danu!” aku melengos akan
meninggalkan Usui, tiba-tiba Usui menarikku dari belakang dan menutup mataku.
“Baka USUI, dasar mesum…” deruku marah “Silahkan kamu keluar kalau kamu tidak
malu memperlihatkan tanda ciuman di pinggang belakangmu pada semua orang.”
Lena terkejut melihatku bermuka
cemberut. Sepertinya bukan itu saja, Lena juga kaget melihatku. “Biarkan aku
berpakaian seperti ini, aku lebih nyaman.” Lena hanya diam menganggukkan kepala
melihatku memakai kaos dan jeans yang bercelemek berbeda dari mereka yang
memakai pakaian renang. “Usui,,,, semuanya gara-gara Usui.” Semua bekerja dengn
riang hingga waktu malam dating. “Aku punya tiket gratis ke pasar malam di
seberang hutan itu, yuk kita ke sana.” Orie menawari kami tiket gratis masuk
pasar malam. Aku ingin ikut, tapi tiba-tiba aku murung karena mereka ingin
mandi di pemandian air panas dan mengatakan ingin mandi bersama sambil buka
baju. “Usui, ini semua gara-gara tanda ciuman darimu.” Aku berlari menuju kamar
setelah kepergian merekka. “Aku tidak ikut karena ingin menjaga kafe dan
menemani Misaki.” Tiba-tiba usui di belakangku yang melihatku menangis. Saat
aku bangun dari baringku, tak sengaja kusentuh tiket bertumpuk di sebelah kaki.
Aku ingin bergegas pergi mengantar tiket itu namun tiba aku teringat cerita
adikku tentang pasar malam yang selalu ada hantunya. Aku bertekat.
Aku meninggalkan Usui. “Misaki,
kamu yakin akan pergi, tidak takut jalan sendiri menyebrangi hutan?” aku tak
peduli pada pertanyaan Usui. Telah sampai di tengah hutan seberang kafe, aku
merasa seperti kehilangan keberanian. Nafasku tersenggal-senggal, ku dengar
jejak kaki mengejarku, semakin lama-semakin mendekat. Tiba-tiba cahaya putih
mendekat dan terasa sekali pergelangan tanganku ditarik. Aku sangat taku dan
terkejut, aku diam tak bergerak. “Misaki, apa aku mengejutkanmu?” ahh ternyata
Usui. Tubuhku melemah dan tak berdaya hingga lunglai dan Usui menangkapnya.
Usui memelukku “Apa yang kamu lakukan Usui? Aku tersenggal-senggal. “maafkan
aku Misaki, aku tidak akan melepasmu sampai kamu tenang.” “Baka Usui!!” lirihku
sambil mengenggam erat pinggangnya untuk membantu menghilangkan rasa takut.
“Oi Oi oi…. Apa yag kalian
lakukan, mencari kesempatan pacaran di tengah hutan.” Danu melihat kami
berpelukkan, sementara Usui langsung bangun dan berjalan meninggalkan aku dan
Danu. “Aku gak pacaran..” seruku menjadi cewk judes lagi. “Sudahlah akui saja,
kalian tidak mau mengaku aku sudah tahu.” Dasar Danu, manusia jadi-jadian,
penampilannya membuatku tertawa dengan wig rambut blow yang dipakainya dan
dress pink selutut. Danu memang cowok cantik yang mencintai keindahan wanita
dibandingkan aku.
Kejadian semalam membuat Danu
menjauhiku karena ia cemburu. Orie melarang Danu memakai gaun wanita, namun
Danu tetap bersih kokoh. Orie memberi jaminan pada Danu boleh berpakaian wanita
kalau dia bisa menang dalam turnamen voli liburan pantai ini. Danu bingung akan
berpasangan dengan siapa, aku menawarkan diri untuk membantunya. Awalnya dia
menolak namun pada akhirnya dia setuju karena hanya aku yang mau berpasangan
dengan anak laki-laki berusia 14 tahun. Hadiah utama turnamen itu menjadi
pasangan raja dan ratu pantai semalam dengan pakaian renang terindah.
Aku dan Danu menang melawan 5
pasangan tim hingga masuk final. Ternyata lawanku dan Danu adalah pasangan yang
luar biasa. Yah pasangan super si Usui dan Lena. Pada set pertama kami kalah
pada set kedua kami juga kalah. Dan set terakhir membuat tenagaku terkuras. Aku
melihat Usui dengan kesal. Aku selalu memikirkan kenapa Usui menjadi lawanku,
mengapa dia yang selama ini ada di sisiku malah bersama Lena. “Kenapa sekarang
malah Usui jadi Musuh kuuuuu!!!!” aku keceplosan berteriak. Aku melihat Usui
terbelalak mendengarkan celetukku. “Jadi apakah ingin bersamaku” usui bergumam.
“Maaf aku hanya mengatakan apa yang ada dalam otakku.” Aku berbisik pada Danu.
Usui servis bola kearahku dengan
sangat keras, aku menangkisnya terlalu keras juga sehingga bola melambung ke
belakang dan tertiup angin. Danu tidak putus asa, ia mengejarnya sampai bola
kembali ke lapangan namun tepat berada di depan bangku wasit. Aku tidak
mengetahuinya “Aku akan mengejarnya Danu…” seruku. “MIsakiiiiii,,, awas…”
teriak Liora, aku terperanjat dan terus mundur tanpa bisa berhenti.
Gubrakkkkkkk, tubuhku menabrak sesuatu yang empuk namun suaranya seperti
menabrak besi kursi wasit. Ternyata Usui di belakangku. Kkrek krek krek
“auu aw awaw” suara ketakutan wasit yang kursinya terus bergoyang, kemudian
Usui memegang kursinya sampai tenang.
“Usui, apa yang kamu lakukan?”
aku menangis. Turnamen berakhir dengan Lena dan Usui sebagai pemenang. Malam
perayaan Ratu dan Raja pantai akhirnya dimulai. Aku mengikuti Usui yang menjauh
meninggalkan keramaian tanpa sepengetahuannya. Ia terkejut saat menoleh ada aku
di belakangnya. “Usui, terimakasih buat semuanya. Tapi kenapa kamu lakukan?”
aku berterimakasih namun marah karena seharusnya Danu menang bertaruhan dengan
Orie jika Usui tidak menjadi lawanku. “Maafkan aku Usui…” aku bergumam… “Tidak,
kalau aku tidak memaafkan, kamu mau apa?” aku langsung mendongak melihat wajah
Usui, yang memang lebih tinggi badannya dariku. “kamu yang salah Usui,
seharusnya Danu bisa mewujudkan impiannya!”, “Aku hanya gak mau Ayuzawaku
menjadi pajangan dan berfoto dengan laki-laki lain memakai pakaian renang yang
menampakkan kecantikanmu Ayuzawa Misaki. Aku tidak ikhlas.” Usui menatapku dan
benar-benar minta maaf. “Tapi aku gak peduli Usui, aku ingin membantu Danu.
Seharusnya kamu gak lakukan itu. Aku tidak apa-apa.” Aku menagkis pernyataan
Danu seolah tak mengerti, aku malu harus mengakui semuanya pada Usui. “Apakah
ini yang selalu dilakukan Ayuzawa ku saat tak bisa berbohong?” baiklah aku
mengerti. Usui akan meninggalkanku. Aku menarik tangan kirinya. “Aku memang ingin
bergandeng tangan denganmu Takumi, aku memang indin kamu selalu ada di sisiku
Takumi, aku ingin kamu Takumi Usui.” Aku menagis mengakui semuanya. Usui
berbalik dang berdiri tepat dihadapanku. Aku lemas sampai aku terduduk di atas
pasir putih.
Aku terus menangis. “Apa yang
kamu katakana ayuzawa, apa lagi yang ingin kamu tanyakan.” Usui memegang
tanganku. “kenapa kamu selalu mempermainkan aku, kamu selalu mesum di depanku.
Kamu yang membuat kau selalu merasa kehilangan saat kamu jauh. Kenapa harus
Takumi Usui yang membuat aku tertawa, menangis, dan marah, kenapa?” Usui
memegang kedua tanganku dengan erat. “Aku ingin selalu bersama Ayuzawaku.
Ketuaku yang tawanya selalu tiba-tiba membuatku bahagia.” Usui memandangku,
dengan dalam dan aku semakin erat memegang tangannya. Kembang api memancar ke
angkasa dengan indah saat Usui akan mendaratkan bibirnya di bibirku, membuatku
tersadar dari buaian debaran detak jantung yang segera menundukkan kepala agar
bibirnya tak jadi mendarat di bibirku. “Kembang api di penghujung pesta ratu
dan raja pantai, ayo kembali.” Usui menarikku dan mengenggam tanganku selama
menuju kafe.
“Hah, akhirnya dating juga
pasangan jutek itu.” Danu melihat dan mengomel melihat aku yang tak hadir pada
pesta itu. “Akulah yang pantas jadi Ratu Pantai.” Lagi-lagi aku tersenyum
melihat dandanan Danu yang seperti bidadari cantik. “Unuk akhir liburan, karena
kita harus pulang besok. Ayuk berfoto.” Menejerku menyuruh kami berbaris.
“dasar pasangan aneh.” Danu lagi-lagi berceloteh. “Kami gak pacaran danu.”
Cetus ku. “eitt timernya berapa ya?” Lena mengingatkan. Usui menarikku dari
atas, karena kami berpose di atas tangga pintu kafe, yang terjadi foto itu
seperti aku sedang berkelahi dengan Usui dan teman-teman karena muka mereka
masam melihat ke arahku yang menolak tarikan Usui.
Selesai.
Langganan:
Postingan (Atom)

