Jumat, 10 April 2020

Bangun

"Hai bro... Gabut banget nih! " Pernah gue lantaran kalimat tu ke sahabat gue. Namanya Satia, cocok banget tuh nama dengan sikapnya selama menjadi sahabat gue. (Mirip kata SETIA) 

Gimana gak Setia coba? Setiap gue punya masalah dia yang dengerin omelan gue, dia yang nepuk-nepuk punggung gue, kadang dia juga ikutan nangis kalo gue cerita sedih, kadang ikut ngakak sampe mukul-mukul gue kalo cerita lucu, bahkan pernah juga nemenin g gue makan walau cuma di warung nasi pinggir jalan, CUMA NEMENIN DOANG loh yaaa. 

Eits... Setianya bukan hal sepele lo bro,  mungkin dalam hati lo gumam, "gue juga bisa gitu, biasa aja kali" Upss bukan bro... Kalo bisa bro, gue pengen bawa dia ke surga Allah kalo mati kelak bro. Semoga aamiin. 

Dia ajarin gue berhijab, bukan cuma ngajarin bro! Dia contohin dengan hidup dia setiap hari, dan gue lakuin beb, wuihhhh nyaman banget bro ketika gue ngerti hidup ini gak cuma persiapan untuk bahagia dunia aja. 

Akhirnya gua bisa hijrah dari masa lalu gabut, jelek, hitam gelap. Gue ambil pelajaran  dari semuanya. Masalalu yg tau hanya orang masalalu lah. 
Big thanks udah ajak gue hijrah.  My Best Friend @Satia

Senin, 18 Maret 2019

Nafasku



Berderai air mata haru,bimbang sekaligus  bahagia, berpura-pura tegar di hadapan sang istri yang sedang berusaha menahan rasa takut dan sedih. “Mas, Mbaknya harus dioprasi. Kami sudah berusaha agar istri mas melahirkan secara normal, sudah kami suntik perangsang dua, tapi dari tadi baru buka satu, jika ditunggu sampai buka sepuluh, kami khawatir bayi yang dikandung tidak bisa diselamatkan, karena detak jantungnya semakin rendah.” Itulah pembicaraan yang ku dengar. Sembari terbaring merasa takut, dokter menyuruhku  dan suami untuk berdiskusi dengan waktu yang singkat. 



“Ayang, dengar kata dokter kan? Ayang harus dioprasi demi dede. Jangan egois Ay! Mas tau ayang bisa lahiran normal, tapi inget Ay, dede juga harus diselamatkan” sambil memegang tanganku lalu diam sejenak dan mencium keningku seraya berbisik “Ayang pasti kuat, semangat Ayang!” kata-kata yang selalu ia bisikkan sejak aku hamil trimester pertama sampai saat ini. Matanya berkaca-kaca, aku pun demikian, ia mengusap air mataku menunggu persetujuanku. Aku pun mengangguk, sosok laki-laki hebat yang selalu ada buatku dengan singgap memanggil dokter dan menandatangani surat persetujuan kalau aku harus dioprasi, disusul dengan tanda tanganku.
Setelah penandatanganan surat persetujuan, suamiku keluar dari ruangan. Aku tidak tau apa yang dilakukan suamiku dan mama mertuaku selama aku ada di ruang UGD. Satu yang pasti, mereka menunggu proses oprasi yang rencananya akan dilakukan pukul sepuluh malam nanti. Di ruang UGD itu, tidak ada yang mengajakku berbicara, walau pun aku berusaha memanggil suster yang berada di situ, tapi mereka tetap sibuk dengan tugas mereka masing-masing dan mengabaikanku (merasa dicuekin).
Setelah dipasang alat pembantu pembuag urine, masuk seorang pasien yang sudah waktunya melahirkan, ternyata beliau harus dioprasi juga karena posisi bayi yang melintang. Padahal sudah bukaan penuh dan berusaha mengejan, tetiba dimarah oleh seorang bidan karena hasil USG jelas bayi yang dikandungnya dalam posisi melintang dan berbahaya jika dilahirkan secara normal. Sungguh malang nasib beliau, jika saja suaminya ada di sampingnya, pasti sakit yang dirasa akan berkurang. Ketika adzan magrib berkumandang, semua tim dokter bergegas melaksanakan sholat, satu persatu berganti pakaian lalu mendekatiku. “Vitalistres 1, kita utamakan!”
Sampai di ruang oprasi, aku semakin tegang dan takut. Ku kira suamiku akan mendampingiku sampai proses oprasi selesai, ternyata suamiku pun tidak tahu kalau oprasi dipercepat setelah waktu maghrib. “Bu jangan tegang ya, tidak terasa kok. Kalau ibu tegang ketahuan lo.” Aku hanya mengangguk walaupun sebenarnya tetap tegang dan takut. Tut tut tut berulang kali alat berbunyi yang menandakan aku takut dan tegang. Alat pendeteksi tegang yang terpasang ditanganku pun mulai mengencang.
Berulangkali aku merasa tegang, akhirnya seorang dokter yang ahli anatesi duduk di sebelah kananku mengajakku ngobrol seraya membetulkan posisi jarum impus ditanganku. “Bu, udah tau belom jenis kelamin anak ibu? Siapa namanya nanti bu?” aku mulai santai dan menjawab semua pertanyannya. Operasi akan segera dimulai, aku disuruh duduk memeluk bantal dan agak condong kea rah depan. “ibu, jangan tegang dan jangan terkejut ya, kita suntik bius di tulang punggung ibu.” Aku mulai takut dan tegang lagi, suntikan pertama berjalan baik, suntikan ke dua tubuhku semakin tegang “Bu, jangan tegang ya.. ini jarumnya terjepit Bu… rileks Bu, ambil nafas yang dalam dan hebuskan lewat mulut. Iya ibu hebat, sering ikut senam hamil dan relaksasi ya sama bidannya?”
Operasi segera di mulai, sebelum itu aku ditanya identitas lalu badan bagian pinggul dicubit bebarengan dengan bagian pundak. “Mana yang sakit Bu? Bagian atas atau bawah?” tentusaja bagian atas kan. Aku disuruh mengangkat kaki, namun kakiku terasa berat dan rasa kesemutan. Kucoba sampai tiga kali, aku benar-benar tidak bisa mengangkat kakiku. “Baca doa Bu, kita mulai operasinya, gak sakit kok Bu.” Memang tidak terasa sakit, tapi rasa was-was dan tegang terus dating. Tut tut tut, lagi dan lagi alat yang terpasang di tangan bagian lengan mengencang tanda aku tegang. Sayatan demi sayatan aku rasakan, hanya saja tidak terasa sakit.

“Pak, kenapa dingin sekali Pak?” tanyaku sambil menggigil menahan rasa dingin luarrr biasa. Tubuhku bergetar, gigiku berhantuk mengeluarkan bunyi gemelutuk. “Eh…. Ini AC kita matikan loh Bu, masa dingin sich?” terus berusaha melawan rasa dingin, obrolan konyol yang kudengar saat dioprasi pun semakin jelas, ada yang pesan makan ayam geprek, pokoknya pembicaraan konyol yang tak perlu dipahami karena maknanya hanya mereka yang tahu. “Eh, Ibu alergi obat ya?” aku hanya menjawab tidak, karena setahu aku, aku memang alergi dingin sehingga badanku bentol-bentol.
“Maaf Bu, kita tekan untuk mengeluarkan dedenya ya.” Sungguh terasa dorongan dan tarikan yang dilakukan oleh tim dokter untuk menyelamatkan anakku, aku pun mendengar tangisannya. “Alhamdulillah…. Operasi selesai pukul 19.20 WIB.” Aku tidak diberi kesempatan melihat bayiku, bayiku langsung dibawa oleh dokter anak yang ada disitu.
Ternyata, bayiku langsung diberikan pada suamiku. Suamiku terharu lalu mengumandangkan adzan dan iqamah di telinga anak kami. Suamiku memanggil mamaknya yang berada di ruang tunggu “Ma, anakku ma!” isaknya.  Sebenarnya mereka berdua terkejut, karena mereka tidak diberi tahu waktu operasi dilakasanakan.
Pasca operasi, saya di tempatkan pada ruangan yang sepi seorang diri. Kurasakan sensasi pusing yang luar biasa, dingin menusuk hingga tubuh terus mengigil. Ingin kupejamkan mata, tapi aku takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Kulihat dokter lalu lalang melewati ku. Berganti kaus tangan dan masker. Beberapa dokter, perawat dan dokter anak berlalu tanpa kuhiraukan. Makin lama makin sepi taka da seorang pun yang melewati ruangan ini. Kemudian kuberanikan diri memanggil dokter yang tadi mengoprasiku “Pak, boleh panggilkan suami saya?” dokter itu pun mengiyakan dan menyuruh seorang perawat untuk memanggil suamiku.
Suamiku masuk ruangan memakai pakaian rumah sakit warna biru. Suamiku langsung mencium keningku, kembali matanya berkaca-kaca. “Mas, rasanya dingin banget, sebenarnya badan Ndok tertutup kain apa gak Mas?” Aku belum bisa merasakan anggota tubuhku secara utuh. “Enggak Ay, biar Mas tutup pakai kain ya.” Tidak lama seorang pasien diantar di sebelahku, pasien ini dari Baserah. Bernama Raismidar, berbicara aneh, ngelantur sendirian. Lalu suamiku izin keluar dan mama mertuaku menggantikannya. Kemudian bergantian lagi dengan mamakku dan bapakku yang menyusul.

Proses pindah ruangan dalam keadaan bius sudah mulai hilang, mulai terasa pedih dan mendenyut sakit, tubuhku dipindah ke tempat tidur yang lebih rendah, sampai di ruangan rawat tubuhku dipindahkan lagi ke tempat tidur yang lebih tinggi. Rasanya luar biasa sakit, aku ingin menangis tapi tangis itu kutahan mengingat anugerah dari Allah yang telah ku terima.
Setelah di ruangan rawat, ada beberapa pasien lain yang juga operasi melahirkan. Bedanya itu, mereka bisa langsung melihat anak yang baru dilahirkannya, sedangkan anakku harus dirawat dan terpisah dariku. Lagi dan lagi aku ingin menangis, tapi kulihat suamiku yang tegar dan kuat menghadapi ini, kedua orang tua ku yang terus menemaniku, membuat aku terus menahan tangis itu.
Hari demi hari berlalu, sampai pada hari ditetapkan aku pulang. Namun, kepulanganku ditunda karena anakku harus pulang keesokan harinya. Sungguh perjuangan keluarga yang luar biasa.
Sampai pada hari ke empat, anakku sudah diperbolehkan pulang. Alhamdulillah bahagianya aku, bisa melihat anak yang telah kulahirkan. “Mirip anak kang Din.” Kata mamakku. Untuk pertama kali aku memangku anakku. Ingin segera aku memberikan asi untuknya, namun keadaanku masih kotor dan belum madi wiladah. Proses pembayaran pun selesai, akan segera sampai di rumah. Terbayang ramainya orang datang ke rumah, terbayang akan terdengar pujian-pujian bahkan cemoohan orang yang datang.
Alhamdulillah, selama perjalanan pulang aku tidak mabuk perjalanan. Taulah, selama ini aku anti sekali dengn yang namanya mobil. “Ma, jangan-jangan betul kata Buk Srik, kalo abis oprasi gak mabuk lagi.” “Masa mau gak mabok ndadakan oprasi disit.” Terlihat raut bahagia suamiku, yang biasanya takut melihatku naik mobil, sekarang suamiku enjoy dan tersenyum.
Sesampainya di rumah,ternyata tetangga terdekat  banyak yang menunggu. Ya, bahkan mbah uyut anakku pun sudah menunggu. Alhamdulillah, mbah ku bisa melihat buyutnya. Selama masa pemulihan, suamiku benar-benar menjagaku. Malu rasanya, setiap hari dilayani suami, bahkan mandi sampai buang air pun suamiku mendampingi. harus bagaimana lagi menolaknya? Suami selalu berkata aku adalah tanggungjawabnya.

Pernah, suatu hari aku tak bisa menahan tangis haru di depan suamiku. Aku menangis merasa tak pantas dilayani suami, tapi ternyata suamiku berkata lain “Udah jangan nangis, nanti juga sembuh.” Ingin rasanya mengatakan aku tak mau dilayani suamiku untuk semua kegiatan, tapi aku hanya terpaku dan hanya bisa menatap wajah suamiku yang penuh kasih dan saying.
Hari-hari berlalu, mamakku menungguku, merawat anakku dengan sangat hati-hati, bahkan sampai menginap di rumahku sampai tiba waktu aqikah sekaligus pemberian nama anakku. Ya, aku hidup bersama suamiku dan ibu mertuaku yang luar biasa menyayangiku. ALULA AFSHEEN UMAIZA nama untuk anakku memiliki arti Anak perempuan pertama yang bersinar seperti bintang yang cemerlang.

Enam belas hari setelah kelahiran, BB anakku sudah 3,9 Kg. pada bulan ke 2 BB anakku sudah 6,3 kg. Alhamdulillah perkembangan yang luar biasa. Puji Syukur selalu kami ungkapkan kepada Allah, semoga Allah selalu menjaga Anak kami, menjadikannya soleha, menjadikanku ibu yang pandai membimbingnya ke surga Allah, dan menjadikanku suamiku Imam kami sampai ke surge Allah Swt., Aamiin.


Selasa, 05 Juni 2018

My New Life is Become Ny. Juari


Dear friends… entah lagi kesambet malaikat apa nih. Gue pengen banget nulis cerpen lagi. Kali ini gue bakalan buat cerpen tentang gue sendiri . ya… gue sendiri. Apa karena efek hamil muda ya? Entahlah! Ups… ketebak deh kalo bakalan cerita tentang hidup baru gue… ha ha ha ha. Cuz… simak aja yuk.

HIDUP BARUKU
Beberapa waktu lalu, kegalauan yang melanda hatiku mulai beranjak meninggalkanku dan membiarkan kesabaran memberi kebahagiaan padaku. Harus mulai dari mana aku menyukuri karunia Tuhan yang selama ini terus menghampiri hidupku. Kalau bisa rasa syukur itu berbentuk, mungkin telah kubentuk rasa syukurku seperti hati yang paliiiing besar pada Tuhan.

Ini bukan kali pertama atau kali kedua kaya lagunya Raisa. Perasaan sayang muncul untuk seseorang yang belum pernah aku temui. Meski baru beberapa hari chating lewat medsos yang namanya whats up. Bermula pada basa basi, selalu saja bahas kodok konser pada malam minggu, basa basi nanyak “malam minggu kok g diapelin?” ha ha ha…. Entah apa maksud dari pertanyaannya.

Semakin lama semakin candu, selalu nunggu chat dari si dia yang belum pernah kulihat batang hidungnya. Perasaan gundah gak karuan selalu dating, biasa hanpon asal letak dan jadi barang milik bersama teman dan keluarga, eehh semenjak chatting sama dia semua barang tersegel dan gak ada yang boleh pegang. Dulu aku terkenal dengan julukan si serius dan Si pendiam sekarang gue dibilang cewek rame yang suka bercanda hilang keseriusan.

Hem……. Waktu yang ditunggu dating juga, aku melihat wajahnya dengan jelas tanpa penghalang. “Ya Allah, rasanya aku ingin dia menjadi imamku.” Tiba-tiba aja hati kecilku bergumam, hanya saja pertemuan itu hanya pertemuan sebelah pihak. Bagaimana tidak sebelah pihak coba? Pertama kali melihatnya pada hari duka yang sedang dialami oleh keluarganya. Ayahnya meninggal tepat 2 minggu setelah aku dan dia asik chat. Pada malam itu, dia tidak mengenalku walaupun tepat berdiri di hadapanku.
Setelah ayahnya berpulang, kami tetap lanjut komunikasi. Layaknya wanita berumur yang selalu didesak orang tua untuk segera berrumah tangga , rasanya itu luar biasa ketika ada lelaki yang benar-benar menginginkanku menjadi wanitanya dan aku pun menginginkannya. Aku tidak memiliki rasa untuk menolak sedikitpun, berbeda dengan ketika beberapa laki-laki datang melamarku langsung menemui ayah dan ibuku. Aku menolak walau pun sebelumnya sudah mengatakan pasarah pada kedua orang tuaku masalah jodoh, bukan lain karena pernah gagal sebelumnya. Tapi entah kenapa, aku merasa yakin Mr. J adalah jodohku walaupun belum pernah bertemu sebelumnya.
Mr. J adalah julukan yang aku berikan untuknya, sebutan yang paling cocok ketika aku sedang bercerita pada si teteh temen curhatku. Akhirnya pertemuan pertama berlangsung dengan perasaan yang luar biasa gak karuan. Kikuk, kaku, malu, malu-maluin dan gak jelas. Syukur Mr. J orangnya rame dan mudah ngobrol dengan kedua orang tuaku.

“Mama….. Mama… baca ini bacaaaaaa!” teriakku dari kamar yang segera ingin lari ke ruang keluarga dengan semangatnya samapai tak terlihat si mama sudah di depan pintu kamar. “Apa si apa?” mama bingung melihatku yang bersikap aneh dari biasanya. “Malam ini De, ba’da isa ini? Serius? Ya gak ada persiapan apa-apa, beli kue lah sana!”  ekspresi mama yang lumayan panik dan gugup waktu tahu si anak gadis satu-satunya bakal diapelin pada malam Sabtu, alias Jumat, 10 November  2017. (kapan-kapan buat cerpen masa pendekatan deh :) ha hahha)

Pertemuan keluarga pun terjadi, sampai pada Jumat, 19 Januari 2018 malam lamaran pun terjadi. Pertemuan singkat yang sangat kusyukuri, hadiah terindah dari Tuhan setelah penderitaan yang kujalani lebih dari satu tahun menunggu yang tak pasti. Pada Sabtu 24, Februari 2018 Tuhan perjelas jodohku dan mengubah status gadisku telah menjadi istri. Bagaimana harus mengungkapkan rasa syukur ini, rasanya terlalu indah jika hanya kubalas dengan rasa syukur. Semoga ini adalah perjalanan hidup yang Tuhan Ridhoi untukku.



Hei friends… cukup ya cerpennya hari iniii… tQ…


Rabu, 29 November 2017

Semuanya

        Kebahagiaan yang hakiki berasal dari hasil mencintai Allah dengan tulus. Tidak ada yang pantas dicintai selain Allah, karena cinta adalah milik Allah. Siapa pun dan apa pun yang kamu cintai akan memberikan kebahagiaan yang hakiki melalui cinta Allah.

         Percayalah, kebahagiaanmu selalu berasal dari ridha-Nya. Semua kebahagiaan yang kamu rasakan adalah hasil dari permohonanmu pada Allah dalam doa atau permohonan orang tuamu pada Allah untukmu.

           Semuanya atas restu Allah.
Sedihmu dan bahagiamu, itu karena Allah.
Sadarilah, bahwa Allah pemilik semua yang kamu miliki, pengatur jalan hidupmu, pengabul semua doamu.
Sebab itu, syukurilah hidupmu apa pun itu.

Anonim 😊

Jumat, 01 September 2017

Punggung Rasa

         “Boleh aku bercerita?” setelah berbincang hebat dengan seorang Bos di perusahaan tempatku bekerja. Ngalor-bgidul gak ada tujuan kalo kata orang tua. Ku Tarik tangan rekan kerjaku dan menatapnya penuh harap. “Sok monggo atuh!” jawaban yang selalu terucap ketika aku menginginkan sesuatu darinya. Jawaban yang semakin membuatku menggebu-gebu untuk segera cepat menumpahkan segala yang ku pendam tanpa berpikir panjang walaupun sangat bersifat RAHASIA.

         “Teh, ada yang aneh sama hati ini, kayaknya hatiku belum mati Teh.” Tanpa ada jeda sedikitpun untuk Teteh memotong pembicaraanku.
Teteh hanya diam dan menatapku lekat-lekat, memegang dahiku dan meraba pergelangan tanganku mngukur suhu tubuh dan menghitung denyut nadiku. Aku merasa dipermainkan “Aduh teteh, ini kenapa?” solotku merasa tak dipedulikan. “Ih kamu mah aneh-aneh aja Neng. Mana ada tubuh hidup tapi hatinya mati.” Ha ha ha lagi-lagi humornya muncul disaat yang kurang tepat.

          “Teh, aku udah move on Teh. Ada sosok baru Teh, padahal Cuma punggungnya yang ku lihat dan  pemuda itu tak kukenal.” Aku menyambung curahan perasaanku. “Yakin kamu Neng, kok bisa.” Teteh tercengang. Hemmm, aku terus bercerita. Cerita yang membuat aku merasa terbang, terbang gak jelas dalam perasaan yang tak pernah terpikirkan oleh siapapun. “kapan lihatnya? di mana? Lagi ngapain? Ganteng gak? tinggi gak?” Mulailah teteh mengeluarkan bajibun pertanyaan, bingung harus jawab yang mana dulu. Simpel ajah kali ya jawabnya.

           Jujur, sebenarnya mata ini melihatnya satu tahun yang lalu. Saat itu aku tidak ingin meneruskan perasaan yang kuanggap hanya singgah sebentar lalu akan pergi begitu saja. Aku pun mengubur rasa dalam-dalam tanpa pernah menyiramnya apa lagi memupuknya. Aku takut rasa itu tumbuh dan berkembang menjadi rasa terlarang yang bersemayam di hati yang penuh luka ini. Tapi entah kenapa, rasa itu hadir dan entah kapan akan pergi lagi.  “Di halaman kantor kita Teh, waktu meeting bahas pembukaan cabang baru. Akhir-akhir ini, aku kepikiran terus Teh, terus lebih sering lihat punggung yang sama persis dengan yang aku lihat satu tahun lalu”.

        Kami hening, tanpa suara dan malah mulai asik dengan hanpone masing-masing. Kuotak-atik akun fb dan WA, terasa desiran darah mengalir begitu cepat diiringi gendering jantung yang berdegup. Mataku terbelalak lebar sampai mulutku ingin berteriak. “Loh kok, dia dekat ama Bos ya Teh? Liat Teh, punggung pemuda ini yang aku sukai.” Kusodorkan Hanponeku menunjuk wajah baru yang ada di akun Bos kami. “Ini mah satu bidang ama Teteh Neng, di bagian pemasaran. Tentulah kamu sering lihat punggungnya. Tapi siapa ya namanya?”

          Keheningan datang lagi. Bukanya dapat solusi malah jadi keduanya mikir, bertanya-tanya yang entah ditujukan pada siapa. Perbincangan berakhir tanpa ada penyelesaian yang berarti. Perayaan hari jadi perusahaan berlangsung. Kali ini agak kesel, dipisahkan tugas dengan Teteh. Aku diutus ke perusahaan pusat dan Teteh di perusahaan cabang 12.

          Berjalan gontai menuju ruangan acara. Langkah demi langkah seolah memendek, saat terhenti mata ini terbelalak lagi. “Ternyata sudah punya kekasih, syukurlah.” Gumamku lirih. Aku melihatnya asik ngobrol dengan mahasiswa yang sedang training di perusahaan. Ha ha ha ha, mungkin aku patah hati, melihat sosok yang pernah menggetarkan hati dan mendorong senyuman kini membuatku semakin malas untuk bekerja. Ingin aku bercerita pada rekan kerjaku yang lain, tapi tak mungkin hati ini percaya pada selain Teteh.

           Acara selesai, di kamar aku berusaha menahan diri dan pikiran. Menahan utuk jauh dari hanpone agar tidak terpenuhi nafsu rasa yang menginginkan kepuasan. Hari-hari terus berlalu, aku mencoba mengabaikan rasa itu, namun terlambat sangatlah terlambat. Mataku telah menangkap sosok itu dan meletakkannya dalam hati yang luka dan mulai mengobati alau memenuhi kekosongan itu.

          Tiba saat aku benar-benar tersiksa ingin mengetahui siapa dia. Dengan cepat kuperiksa contack hanpone dan mengirim sebuah foto dengan motion “Pak, siapa pemuda dalam lingkaran merah itu?” tanpa ada basa-basi dan rasa hormat yang terkalahkan dengan keinginan menggebu-gebu. Tidak langsung kudapatkan jawaban. Satu jam menunggu, “Oh, itu anak bimbingan saya waktu dia training dulu. Namanya Ahmad pembimbing perusahaan cabang 4 SM, orangnya baik, bertanggungjawab, soleh, tak play boy dan belum ada cewek yang serius.”

       Serasa dunia ini menghentikan waktunya, membuatku berteriak meledakkan rasa gundah. Bos memang paling ngerti maksud dan tujuan siapa pun tanpa harus menggunakan pertanyaan yang benar-benar mengarah pada maksud yang sebenarnya. “kemarin, dia baru dari rumah pakai selandang mahir.” Lanjutnya. Aku udah mulai tak peduli dengan penuturan bos. Aku malah jadi salh tingkah seolah-olah si Bos melihat wajahku yang merah macam kepiting rebus. “Oooo, pantesan familiar wajahnya. Terima kasih Pak itinfonya.” Hanya itu yang bisa saya tulis. “kalau kamu mau, nantik saya kenalkan. Tunggu aja, bentar lagi dia chat kamu.” Timpalnya.

         Aku benar-benar merasa malu, maksud dan tujuanku terbaca dan tertangkap dengan mudah oleh Pak Moyo. “Gak usah Pak, hanya ingin tahu namanya saja kok. Terima kasih lo ya Pak.” Ku letakkan hanpone dan ku tingal merapikan dan membersihkan tubuh. Benar saja, pukul sepuluh malam berbunyilah tanda pesan masuk. “P”, “P”,”P”,”P”, lebih dari lima kali, aku masih mengabaikannya. Teringatlah kata-kata terakhir Pak Moyo. Bergegas ku buka dan ku baca, tak butuh lama waktu yang kugunakan untuk mengenali pemilik nomor itu, sudah lekat betul wajahnya di hatiku Pak Ahmad.

          “Pak, maaf. Pasti Pak Moyo yang paksa Bapak. Maaf banget pak.” Aku salah tingkah lagi, aku senyum sendiri dan menutup wajah tanpa henti. “yaaa ampuuuunn, kudu ngapain aku.” Bergumam tak tentu menghayal yang tak mungkin terjadi. “iya gak apa-apa, dipaksa si enggak. Cuman ada yang tanya katanya tadi.” Jawaban yang membuat aku putus asa. Cuek banget, tepat seperti dugaanku. “Gimana Ami, udah chat kamu apa belum si Ahmad. Bapak seneng kalo anak asuh bapak berteman akrab lebih seng lagi kalo jadi pasangan. Aamiin.” Itu sebuah puisi hebat yang menggoncangkan dunia pada akhir percakapan kami, berfikir bahwa dukungan udah mulai datang.

          Waktu terus berlalu, semakin sering Mengganggu pak Ahmad. Sampai-sampai beliau merasa tidak pantas dipanggil bapak. Akhirnya kami sepakat menggunakan nama masing-masing sebagai panggilan akrab. “Teh, aku udah tau siapa dia Teh.” Aku semakin sering bercerita tentang Ahmad pada Teteh, sampai-sampai Teteh dan suaminya mendukung, walau pun si Aa masih belum percaya kalau aku udah move on.

      Hari ini, aku mengungkap dan mengakui perasaanku pada sosok baru yang tak tahu tentang ini. Perasaan yang entah sampai akapan akan bersemayam. Perasaan yang bisa jadi hanya bertepuk sebelah tangan saja. Ahmad…… satu nama baru yang mulai Aku selipkan dalam sujud malamku ketika bermuhasabah dengan Allah.

Aku Bisa Apa

Rasa entah ap yg mengusik dada. Sesaat ada lalu pergi dan kembali. Entah sekedar singgah atau menetap selamanya.

Saat pertama melihatnya rasa itu ada. Lalu aku mencoba abaikan itu semua. Namun, tak terduga sangat tak kusangka. Rasa ini kembali ada.

Awalnya hanya ingin tau nama, tak ingin menumbuhkan atau mengembangkan rasa ini. Ternyata hati tak mampu mengendalikan dan asik membohongi diri. Mencibir bahwa bahagia itu ada dalam dirinya.

Semoga Allah menegurku saat rasa ini benar-benar terlarang untuk kumiliki. Menegurku sebelum aku pertaruhkan hidupku lagi. Aku takut terulang kedua kali. Allah cemburu dan murka padaku lalu mematahkan hatiku lagi.

Cukuplah Bagiku memiliki rasa ini tanpa ada yang tahu. Cukuplah bagiku, dari jauh memandang punggungmu. Itu sedikit melegakan.

Apa nama rasa ini? Entahlah, yang jelas aku ingin tetap diam memilikinya, walau berharap hadirlah dalam hidupku. ☺

Senin, 14 Agustus 2017

I Look To You by Whitney Houston

As I lay me down
Saat kuberbaring
Heaven hear me now
Surga dengarkanlah aku
I'm lost without a cause
Aku tersesat tanpa sebab
After giving it my all
Setelah kuberikan segalanya

Winter storms have come
Badai musim dingin tlah datang
And darkened my sun
Dan menghalangi mentariku
After all that I've been through
Setelah semua yang kulewati
Who on earth can I turn to
Pada siapa lagi aku berpaling

CHORUS
I look to you
Aku mengadu pada-Mu
I look to you
Aku mengadu pada-Mu
After all my strength is gone
Setelah habis dayaku 
In you I can be strong
Di dalam naungan-Mu aku kuat
I look to you
Aku mengadu pada-Mu
I look to you
Aku mengadu pada-Mu
Yeah
And when melodies are gone
Dan saat irama hilang
In you I hear a song
Di dalam naungan-Mu kudengar sebuah lagu
I look to you
Aku mengadu pada-Mu

After losing my breath
Setelah berhenti nafasku
There's no more fighting left
Tak perlu lagi berjuang

Sinking to rise no more
Tenggelam dan tak lagi bangkit
Searching for that open door
Mencari pintu yang terbuka

And every road that I've taken
Dan setiap jalan yang pernah kulewati
Lead to my regret
Menuntun pada penyesalanku
And I don't know if I'm gonna make it
Dan aku tak tahu apakah aku kan temukan pintu itu
Nothing to do but lift my head
Tak ada yang bisa kulakukan selain mendongakkan kepala

CHORUS

(my levees have broken, my walls have come)
(Tanggulku tlah runtuh, dindingku tlah datang)
Coming down on me
Menimpaku padaku
(crumbling down on me)
(Menimpaku)
All the rain is falling
Hujan turun deras
(the rain is falling, defeat is calling)
(Hujan turun deras, kekalahan memanggil)
Set me free
Bebaskan aku
(I need you to set me free)
(Kubutuh Engkau tuk bebaskanku)
Take me far away from the battle
Bawa aku jauhi pertempuran ini
I need you
Aku butuh Engkau
Shine on me
Sinarilah aku

CHORUS

yeah

I look to you
Aku mengadu pada-Mu
oooooooh
I look to you
Aku mengadu pada-MU

Kamis, 03 Agustus 2017

Menyambut Dirgahayu Indonesia

🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩
Mumpung agustusan, monggo disimak...
anda akan terkagum-kagum

🇮🇩MISTERI DIBALIK NAMA *"INDONESIA"*

🇮🇩Pernahkah  Kita Menghitung Angka dari
Kata  "INDONESIA" ???

🇮🇩SUBHAANALLAH,
Akan di dapat Keajaiban  yang luar biasa,

🇮🇩Mari, Kita coba Hitung :
Abjad = Urutan Angka

I : 9
N : 14
D : 4
O : 15
N : 14
E : 5
S : 19
I : 9
A : 1

🇮🇩Dari Semua Angka, yang Muncul Hanya
Angka  "1-9-4-5", 

Tdk ada angka 2,3,6,7,8

🇮🇩Tentu ini Bukan Kebetulan...
Ini adalah Kehendak dan Karunia dari ALLAH SUBHAANALLAHU WA TAÀLA.

🇮🇩Mari Coba Kita Jumlahkan semua Angka dari
Kata "INDONESIA", jumlahnya "90",
🇮🇩Dalam AL QURÀN,
Surat ke-90 adalah
Surat Al-Balad,
yang Artinya "NEGERI"

🇮🇩Tentu ini Bukan Suatu
Kebetulan ini semua Karunia yang Luar Biasa dari Allah Subhaanallaahu wa taàla.

🇮🇩Mungkin ini Juga Jawaban pada HADITS ROSULLULAH
yang Mengatakan       Bahwa                                                                                      akan ada Negeri di atas Awan Bernama
Samudra...
yang di-Kelilingi Air dan menghasilkan Banyak Ulama...
Ternyata Negeri itu adalah...
🇮🇩*INDONESIA*- Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur

🇮🇩*Mari Indonesiakan Indonesia kita* jangan sia-siakan...
mari kita wujudkan Rohmatan lil 'alaamiin...

🇮🇩Wallahu a'lam Bis Shawab

"MERDEKA...."

🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩Benarkah nama negara kita INDONESIA diberi nama sesuai dgn akronim para WALI SONGO?

1. I   Ibrahim Malik (Sunan
        Gresik)
2. N  Nawai Macdhum (Sunan
         Bonang)
3. D  Dorojatun R Khosim
         (Sunan Drajat)
4. O  Oesman R Djafar Sodiq
         (Sunan Kudus)
5. N  Ngampel R Rahmat
         (Sunan Ampel)
6. E  Eka Syarif Hidayatullah
         (SunanGunungJati)
7. S   Syaid Umar (Sunan
          Muria)
8. I    Isyhaq Ainul Yaqin
         ( Sunan Giri)
9. A  Aburahman R Syahid
         (Sunan Kalijaga)

Jumlah huruf INDONESIA 9 sesuai dgn jumlah Wali/Alim Ulama dikala itu = WaliSongo atw 9 Wali.
Wa Alloohu a'lam

🇮🇩🇲🇨 *MERDEKA* ✊🏼✊🏼

Sabtu, 01 Juli 2017

01072017

Tidak sedikit orang yang mengabaikanmu. Tetaplah tersenyum dan bersabar. Allah selalu bersamamu.

Selasa, 18 April 2017

Tawaqltu Alallah

Menantimu hingga kini
Merindumu sampai nanti
Memelukmu untuk kumiliki
Menginginkanmu walau takkan pernah terjadi

Jangan menatapku benci
Hati ini telah sepi
Melepasmu bukan yang ku cari
Walau selau terus dan lagi tersakiti

Singgahsana indah darimu
Kulepas dan kuserahkan pada Ilahi
Mencintaimu bukan ingin memiliki
Mencintaimu menerima takdir ilahi

Sabtu, 01 April 2017

Haruskah

Haruskah ku tunjukkan pada dunia?

Aku menangis merasa diadili.

Aku berusaha sekuat mungkin menahan semua ini.

Aku rapuh, kekuatanku rapuh termakan masa.

Rapuh kehilangan penopang tubuhku.

Hanya bisa terdiam menahan pedihnya goresan kehebatan cinta.

Aku terluka, memaksakan diri tuk menyakitimu.

Suherman, harapan sebagai tempat pelabuhan terakhir dalam hidupku.

Suherman, namamu hampir pudar
Membuatku sulit menemukan dimana posisimu.

Selasa, 31 Mei 2016

Sesalku

Astghfirullah. . .
Ampuni segala dosa atas kesalahan yang telah ku perbuat ya Allah. Setitik air mata yang jatuh ke pipiku menyadarkan betapa kecilnya hatiku untuk menerima segala kehendak-Nya.

Hari ini aku belajar dari ketabahan dan kesabaran seorang anak kecil yang besekolah di tempatku mengajar. Usianya baru tujuh tahun, memiliki dua saudara dan seorang ibu yang menderita sakit jantung. Hari-harinya teramat sulit ia lalui, hampir semua teman di kelas menjauhinya.

Inalillahi wa inaillahirojiun, perjalanan hidup yang dilaluinya kini harus tanpa ayah. Kehidupan yang memerlukan kerja keras dan sungguh-sungguh. Kuatkan dia dan keluarganya ya Allah.

Hari ini, Allah mengetuk hatiku dan menunjukkan betapa kecilnya hatiku menerima takdir. Aku selalu mengeluh, selalu menangis dan menganggap Allah tidak adil.

Hari ini, Allah menarik langkahku untuk menginjakkan kaki di depan rumah kecil, haya ada satu ruangan. Jelas terlihat, semua aktifitas dilakukan di situ.

"Kedatangan kami ke sini bermaksud untuk mempererat tali persaudaraan kita, Kami selaku keluarga besar SD Negeri ... juga mengucapkan turut berduka cita atas musibah yg menimpa keluarga Ibu. . . ., mudah-mudahan Allah memiliki rencana yang indah kedepannya, aamiin." Rangkaian kalimat yang terucap dari mulut Kepsek itu membuat semua guru terdiam dan mata berkaca-kaca.

Astaghfirullah, aku menyesal telah mengeluh, aku malu pada anak kecil yang berhati besar dan lapang itu. Ya Allah, kuatkan dia dan keluarganya ya Allah. Aamiin.

Senin, 07 Maret 2016

Rapuh



Bismillahirrahmanirrahiim
Cukup lama aku harus memendam sepi ini. Bagaimana pun juga, aku tetap bersyukur atas cobaan yang Tuhan berikan. Pedih tiada terkira rasanya, entah harus dari mana aku akan memulai semua ini. Aku merapuh, terasa sepi walau dalam keramaian. Aku lelah berpura-pura kuat di hadapan semua orang, aku letih dengan semua pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari mulut mereka.
Terkadang aku merasa terlalu banyak orang yang berusaha menguatkan aku, tapi aku rapuh. Sesaat aku egois menghadapi semua ini, aku ingin menggantikan posisinya yang terbaring sakit di sana. Sesaat aku berusaha untuk tegar, tegar, dan tegar menghadapi semuanya. Hari ini aku mengakui semuanya, aku rapuh.
Terngiang kembali ucapan yang membuat hatiku pedih, terasa tertusuk, tercambuk, semuanya menyakitkanku. Selama ini aku menjadi orang yang munafik, berpura-pura mampu menyimpan semuanya sendiri tanpa berbagi pada yang lain. Aku berharap, tulisan luapan perasaanku di sini akan membantuku sedikit kuat. Ternyata tidak, aku rapuh dan benar-benar takut menghadapi masa yang akan datang.
Hari ini, aku menangis lagi, orang yang aku saying menginginkan aku untuk ikhlas melepaskannya.

“ Ayang, jujur mas udah ikhlas wat ninggalin semuanya, tapi mas belum ikhlas ninggalin ayang sama mama. Mas kasihan sama mama.”
Aku sakit dengan semua ini, aku hanya berharap Tuhan akan memberi yang terbaik setelah semua ini.
Ya Tuhan, jika memang Engkau benar-benar mencintainya, jangan biarkan dia sakit terlalu lama. Jangan biarkan dia menderita, dan jika memang hanya ikhlas dariku yang bias membuatnya bahagia maka mulai sekarang aku akan belajar untuk ikhlas.

Senin, 22 Februari 2016

Inikah Keadilan Mu Tuhan

           Hai, selamat malam.
Sudah lama aku tak menyapa dan menulis di blog yang biasanya menjadi buku harianku.
Hari ini, aku merasa sedikit kelelahan karena pekerjaan yang aku jalani sebagai operator di sekolah.
Sedari kemarin aku sudah berniat menumpahkan segala kesedihan dan kebahagiaan yang aku rasakan. Kebahagiaanku berawal pada tanggal 17 Oktober 2015 karena wisuda ku. Kebahagiaan terus berlanjut pada tanggal 17 November 2015, ya aku ditunang oleh kasihku Herman. Mungkin ini keadailan dari Tuhan, belum genap satu bulan pertunanganku Tuhan menguji ku. Tuhan mengujinya, menguji keluargaku dan menguji keluarganya.

              Awalnya dia di fonis terserang gejala hepatitis. Seminggu menjalani perawatan di puskesmas dan akhirnya harus dirujuk ke rumah sakit daerah. Kekecewaan dan amarah hadir mengusik hatiku. Selama satu minggu difonis terserang gejala hepatitis dan meminum obat untuk mencegah hepatitis, tapi ternyata dia terserang DBD. Aku marah, aku kesal kenapa harus salah fonis. Kini dia harus sering kontrol ke RSUD Arifin Achmad setelah hampir lebih dari tiga bulan pulang-balik dan menjalani rawat inap. Sekarang dia menderita anemia aplasi. Sebagai calon istri, aku hanya bisa memberi semangat kepada orang yang aku sayang.

              Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuknya. 167 kantong darah sudah ditransfusi ke tubuhnya, sekarang kondisinya Alhamdulillah sudah mulai membaik. Semoga akan terus membaik dan sembuh. Semoga Tuhan mengizinkan kami hidup bersama, agar kami bisa beribadah bersama-sama. Semoga doa tulus dari semua keluarga dan teman-teman dikabulkan Tuhan. Terimakasih buat semuanya. Ayang, terus semangat, yakinlah Tuhan akan memberi ayang kebaikan. Aamiin.

Minggu, 17 Mei 2015

No Romantic

Cling cling cling, ku dengar gemrincing dari gelang kaki yang ku pasang di kaki kucingku. Aku menggeliat menepi bantal doraemon kesayanganku. Hem… aku mengulat lagi dan lagi, kulihat jam pada layar hanpone ku. Sudahpukul 06:00 pagi, aku tertinggal waktu salat subuh. Bergegas aku berlari mengambil air wudhu, salat dan segera ku rapikan kamar tidurku yang penuh dengan boneka doraemon.

Terlintas kenangan manis bersama teman-teman saat masih di bangku putih dongker. Hem, aku seperti ini karena laki-laki yang membuatku nyaman sejak mengenalnya. Aku merubah penampilan menjadi lebih feminim mengikuti keinginannya yang tidak menyukai wanita tomboy. Perlahan rambut pun ku biarkan panjang sebahu, rajin memakai bendo dan jepit rambut warna-warni, memakai anting layaknya wanita. Dia menerangiku selama ini.



Pagi ini usiaku sudah dua puluh dua tahun, aku bukan lagi ABG yang harus menemukan jati diriku sendiri. Aku sudah semester akhir di sebuah Universitas, menyusun karya ilmiah sebagai tugas akhir dan syarat mendapat gelar sarjana setrata satu. Segala keegoisan, kelemahan, kelebihan yang aku miliki sudah dia pahami. Yah, walau pun begitu dia masih selalu cemburu saat mendengar suara laki-laki dekat yang dekat denganku. Kami long distance semenjak aku memasuki jenjang Putih abu-abu sampai saat ini. Komunikasi terjalin melalui hanpone, terkadang aku bosan dengan cara ini tapi apa boleh buat.

Empat belas hari lagi happy anniversary ke delapan. Aku tidak menginginkan apa-apa darinya, aku hanya berdoa semoga segala sesuatu tentang kami indah tepat pada rowaktunya. Dia bukan tipe laki-laki yang romantis, bukan laki-laki yang peka terhadap keinginanku. Aku tetap bersyukur dan berterimakasih pada Tuhan, telah dia kirimkan sahabat terbaik atas kelahiranku.

Romatis, ya itu yang sebenarnya aku inginkan darinya. Tapi romantis bukanlah sifat yang mudah dia lakukan untukku. Selama ini bilang cinta ke aku aja bisa dihitung, jangankan bilang “aku mencintaimu” la wong bilang aku cantik aja selama tujuh tahun baru sekali. Kejam banget dia tuh, laki-laki lain ajah mudah bilang aku cantik, pacar sendiri susah bilang gitu.

Aku ingin setiap hari ada yang ngasih bunga mawar merah untukku walau setangkai, tapi gak mungkin kan? Jangankan bunga mawar merah bunga rumput pun dia gak bakalan ngasih ke aku. Sudah nasibku punya pacar yang gak romantis. Haha ha aku jadi ingat waktu kami jalan-jalan ke taman Kota Pekanbaru. Gak ada niat jalan-jalan ke sana tapi aku bingung mau jalan ke mana. Baru sampai di sana aku melihat insan berpasang-pasangan baring-naring di rumput hijau, saling pegangan tangan dan bercanda mesra. Aku cuek aja ngikutin sifat dia, kami sibuk mencari tempat yang nyaman untuk bercerita. Kami menemukan tempat yang strategis, dekat dengan musolah, dekat dengan toilet, dekat dengan penjual jajanan ringan.

Wah, wah, rasanya ingin segera duduk dan meneguk air mineral yang ku bawa sedari tadi. “Ayang, pindah yok jangan di sini, cepet kok.” Glek, belum sempat aku meneguk air dia udah mau pergi ajah. Aku sedikit kesal sih masa dia seenaknya aja kayak gitu, mana tangan aku ditarik kenceng banget trus dibawa lari-lari lagi. Dan anehnya lagi, dia malah milih duduk di dekat rombongan orang-orang yang sudah berkeluarga. “Oh my God, what happen?” pertanyaan dengan tanda Tanya yang titiknya sebesar kepalaku.

“Mau air dong Ay!” cepet-cepet aku sodorkan air yang ku pegang. Aku diem ajah gak komentar apa pun. “Ayang beli jajan deh, buat cemilan.” Kali ini aku menolak dengan alasan aku membawa bekal dari rumah. Perlahan suasana mulai tenang dan kembali seperti biasa. “Kenapa si harus duduk di sini? Lebih nyaman di sana, sejuk, gak banyak sampah.” Aku menggerutu pelan tanpa melihat wajahnya. “tuh liat, tuh liat, mau liat yang kayak gituan apa?” tiba-tiba dia menunjuk kea rah tempat kami tadi datangi, ternyata di sebelahnya ada tiga pasang remaja yang sedang berciuman mesra. “Ayang gak malu apa liatin kayak gituan?” lagi-lagi dia membentak, aku Cuma diem dan menunduk.

Waktu terlewatkan begitu saja  tanpa sepatah kata dariku. “Ayang, maaf ya, Mas gak bisa kayak mereka, Mas malu.” Aku takut dia salah menilai aku, aku takut dia mengira aku ingin melakukan seperti orang-orang yang dilihatnya. Alhamdulillah, dia gak mikir yang aneh-aneh tentang aku. Saat itu aku sadar, akulah wanita beruntung yang mendapatkan laki-laki tidak romantic, laki-laki yang tulus menjagaku sampai detik ini. “Yuk, pulang udah sore, kayaknya mau ujan.” Dia mengelus kepalaku layaknya kakak pada adiknya. Tuhan terimakasih, tetaplah lindungi cinta kami. Agar tetap hidup sampai tiba saatnya bagi kami untuk mengembalikan cinta ini kepada Mu. Indahnya perasaan ini akan ku jaga untuknya. Aku akan setia memilikinya. Terimakasih Tuhan.

Sabtu, 16 Mei 2015

Catatan Dafari Hirotama



Bukan Fiktif Belaka

Maret 2006
Pertemuan di bawah langit biru di tepi sungai yang tak pernah terlupakan. Sifat cuek dan acuh yang membuatku penasaran ingin mengenalnya lebih jauh. Hari-hari yang terlewati tanpa makna apa pun. Menunggu dan selalu menunggu sesuatu yang tak akan pernah terulang. Walau dalam ifilsafat mengatakan bahwa segala sesuatu yang telah terjadi pasti akan terulang kembali. Hal apa pun itu, bedanya tidak pada waktu yang sama dan orang yang sama.

Mei 2006
Penantian yang selama ini ku lakukan tak pernah terwujud. Aku putus asa menjalaninya, aku tersadar ternyata dia benar-benar pergi. Terpaku diam di bawah terik matahari di langit biru. Bisuku akan segera ku akhiri bersama datangnya masa depan Indah. Aku tak akan mengingatnya lagi, ya… aku akan melupakannya.

Juli 2006
Kepergianku tak akan pernah membuat dia kembali pada posisi tempatnya berdiri hari itu. Aku terlalu melukainya. Aku tak berdaya melepasnya, tapi apa yang harus ku lakukan? Aku hanya akan membuatnya semakin terluka jika tetap bertahan di sisinya.

Agustus 2006
“Hiro, waktunya berangkat!” aku


Dafari Hirotama, akan segera meninggalkan Negeri Sakura yang indah. Amerika adalah tujuan utamaku. “Mika, tetaplah berdiri kokoh seperti saat belum bertemu aku.” Aku meninggalkan selembar kertas dengan tulisan itu di dalam sebuah botol yang aku tanam di bawah pohon sakura di tepi sungai.  Ya tempat awal aku bertemu dengannya, aku akan selalu mencintai langit birumu.

Januari 2007
Hari ini terasa berbeda dengan hari-hariku sebelumnya. Tak ada lagi pemandangan bunga sakura, tak ada lagi shusi kesukaanku buatan ibu. Perlahan aku mampu melupakannya dan memulai hidupku yang baru. Masih seperti yang dulu, aku selalu membawa camera yang ku kalungkan di leher, memotret segala sesuatu yang membuatku merasa bahagia.



Agustus 2009
Dua tahun telah berlalu, sebenarnya aku tak ingin kembali ke negeri Sakura tempatku dilahirkan. Setelah study ku selesai aku ingin pergi ke Indonesia memilih tinggal bersama ayahku bukan ibuku. Tapi aku harus tetap pergi menjenguknya sekali dalam satu tahun. Keputusanku bulat memilih tinggal bersama Ayah di Indonesia, Negara beriklim Tropis yang akan membuatku memiliki kulit kecoklatan seperti kulit ayah. Yosshhh….. study ku benar-benar selesai. Aku mengirim sepucuk surat untuk ibu, menggunakan Bahasa Indonesia yang aku kuasai sejak aku kecil.

September 2009
Moshi moshi Ibu…
Usiaku kini sudah lebih dari 22th, aku ingin menjalani hidupku yang seutuhnya. Aku ingin pergi dan tinggal di Indonesia bersama ayah. Don’t worry, aku akan menjengukmu sekali dalam setahun. Aku ingin menjaga ayah seperti yang ibu inginkan. Ibu harus bahagia bersama adikku di situ, tak perlu khawatir ayah pasti akan mengajariku beradaptasi di sana, sama seperti saat ayah membantu ibu beradaptasi dengan lingkungannya dulu.
Love U
Hiro



Oktober 2009
Hem,,, ibuku asli orang jepang dan ayahku asli Indonesia. Aku terlahir sebagai orang blasteran Jepang-Indonesia. Ibu dan ayah bercerai saat aku masih duduk di bangku SMA tahun pertama. Awalnya aku tak merasa terganggu dengan setatus keluargaku. Lambat laun aku kehilangan kebahagiaan. Lima tahun yang lalu, pergaulanku sama seperti remaja seusiaku. Bergembira dan selalu riang, tapi suatu perceraian ibu dan ayah melewati usia dua tahun aku hancur. Saat itulah aku mulai menyendiri dan menjauhi teman-temanku. Setiap sore hari aku selalu berjalan sendiri melewati jembatan yang membentang menyeberangi sungai.

Semakin sering ku seberagi jembatan itu semakin damai aku menjalani hidup. Sekian lama aku melakukan aktivitas itu, aku baru tersadar bahwa jika aku datang lebih awal dari waktu biasanya aku akan melihat pemandangan yang sangat indah dari bawah sakura di tepi sungai. Yah, itu benar, pemandangan yang lebih indah dari dugaanku sebelumnya. Ku lihat sosok wanita cantik dengan tas kecil yang disandangnya. Awalnya hanya iseng memotretkan cameraku ke arahnya, tapi semakin sering kulakukan pemandangan indah di hadapanku tampak janggal tanpa kehadiran wanita itu.

Sore ini, mata cameraku tak mendapatkannya lagi. Aku pun putus asa dan memutuskan untuk pergi. Ku kayuh sepedaku meninggalkan sakura yang indah. Kembali kujalani sekolahku di bangku SMA kelas tiga tahun pertama. Aku punya teman yang keren abis. Tentunya aku tak kalah dari dia, Nazomi namanya. Saat aku selesai dari lapangan bersama Zomi, seorang gadis berambut pirang menghampiri Nazomi. Tampaknya gadis itu menyukai Zomi, tapi saying Zomi lebih memilih temannya. Temannya tak mau menjawab pertanyaan Zomi, aku tahu dia merasa tidak nyaman pada temannya, Yuka. Eh, teman Yuka berusaha menghindari Yuka dan membiarkan Zomi berbicara pada Yuka. Dia menabrakku karena berjalan sambil menunduk. Aku melihat Yuka tersenyum dan bercerita padanya, “Mika, aku mendapatkan no hp Zomi, tapi apa yang harus ku lakukan? Dia menyukaimu.”

Aku tahu namanya, Mika. Sejak hari itu aku selalu mengawasinya di mana pun ia berada. Suatu ketika aku menemukan hp nya di atas meja perpustakaan. Aku yakin dia pasti mencarinya. “Moshi moshi, aku menemukannya.” Suara mika di perpustakaan. “Wakata!” hanya itu yang aku ucapkan. Malam hari Mika menelfonku. “Arigatho, sudah mengembalikan hp ku. Tapi semua contack kenapa hilang?” pertanyaan yang aku tunggu “Yuph, aku menghapusnya dan no kamu sudah aku save. Jika mereka membutuhkanmu mereka akan menghubungi mu” Pertanyaannya semakin banyak, sepertinya dia penasaran.

Perceraian ayah dan ibu lenyap. Setiap malam aku menelfon Mika. “Moshi moshi Mika? Apa yang kamu suka?” aku mengetahui kesukaannya, bunga keci berwarna putih dan perpustakaan yang sepi tanpa suara apa pun. “Mika, coba lihat ke langit!” pintaku padanya. “Huh,,, sudah pagi. Hah.. pesawat asap di langit biru.” Aku mendengar suara kantuknya “Mika, kamu melihatnya? Ambil gambarnya, ini adalah moment pertama kita di pagi hari.” Sepertinya Mika menuruti kemauanku karena dia meminta izin untuk mematikan telfonnya dan memotretnya.

Aku masih belum bisa memberi tahu siapa sebenarnya aku pada Mika. Aku hanya bisa memerhatikannya dari jauh walau dalam satu sekolah. “Moshi moshi, yaup Mika?” dia menelfonku. “Moshi, ulang tahun kali ini tak seindah ulangtahun yang telah lalu, orang tuaku bertengkar, aku dan kakak terabaikan.” Mika curhat padaku, orang yang selalu memperkenalkan diri padanya dengan nama “Rahasia”. “Woi Mika, mari kita rayakan besok di kolam rengang sekolah sebelum upacara. Walau telat satu hari harus tetap dirayakan, aku bersemangat.”

Pagi hari yang cerah dengan langit biru. Kuhampiri Mika dan menyodorkan seikat bunga kesukaannya. Dia terkejut melihatku, sangat terkejut. “Oi Mika Happy birthday!, aku Hiro kelas tiga C, kenapa kamu berdandan seperti Itu? Tidak seperti Mika yang biasanya.” Mika hanya diam dan menatapku dengan takut. “Bunga itu pasti menangis!” hanya itu yang diucapkannya dan berlari meninggalkanku di tepi kolam renang.

Kejadian pagi tadi membuatku merasa harus menanam bunga yang ku cabut dari taman sekolah. Usai jam pelajaran aku meminta sekantong pupuk bunga pada pejaga kebun sekolah dan berlari menuju taman kota. Aku menanam bunga di sana, kutaburi bunga itu dengan pupuk biar subur. “Hiro, apa yang kamu lakukan?” Mika berdiri di belakangku dan memerhatikan aku. “Menanam bunga kesukaanmu dan memberinya pupuk agar subur.” Ku sirami bunga itu, ku arahkan selang penyemprot pada Mika, dia terlihat marah dan menunduk, “Oi Mika lihat!” ku tunjuk pelangi melengkung dari smprotan air yang ku arahkan ke matahari yang menghasilkan biasan cahaya berwarna-warni. “Oi Mika, ini untuk hadiah ulang tahunmu.” Mika mulai tersenyum dan tertawa kecil.

Keesokan harinya aku tunggu Mika di perpustakaan. “Mika, ke perpus sekarang aku tunggu.” Sent! Sms telah ku kirim, tak lama Mika menghampiriku “Hiro, ada apa?” dia gadis polos yang pertama kali ku kenal. “Yuk bolos, aku ajak ke tempat faforitku.” Ku kayuh sepeda menuju tepi sungai setelah menyebrangi jembatan panjang. Ku hentikan sepedaku dank u Tarik Mika yang duduk di boncengan. Mika terdiam lalu tersenyum, “Hiro, apa kamu selalu ke sini setiap hari?” pertanyaan yang sama dari semua orang saat melihatku berdiri di tepi sungai ini. “Yuph, aku senang berada di sini.”

Mika, tak bertanya lagi. Dia memandangiku. “Jadi Hiro benar menyukai sungai, mengalis kemanapun dan membawa segala hal bersamanya.” Aku tersenyum “Aku ingin jadi langit biru, agar bisa selalu melihat ayah dan ibu di mana pun mereka berada.” Mika tersenyum mendengarku “Ya.. aku juga ingin menjadi langit biru, agar bisa tersenyum selalu bersama Hiro.”

Kami semakin dekat, “Mika, mari kiata berhenti berteman.” Perkataan bodoh yang akan memberi resiko dalam perjalanan hidupku, bahagia atau menangis. Aku teriak saat Mika menganggukkan kepala dan ingin mengakhiri hubungan pertemanan kami. Ku peluk Mika dan ku ajak dia ke rumahku. “Hei bu, ini Mika kenalkan.” “Oi Mika.”  Ku ajak Mika ke kamar dan menceritakan kebahagiaan yang ku dapatkan hari ini. “Arigatho Mika, kamu mau jadi pacarku.” Mika tersenyum lalu memandang ke luar jendela melihat langit biru. “Mika, yuk ambil gambar.” Klik… “ha ha ha ha ha…. Jelek sekali hanya ada mata kirimu, mata kananku dan langit biru di luar.” Mika tertawa. “Oi Oi… ini momen kita bersama.” Celetusku.

 Lima bulan telah berlalu. “Mika, temani aku!” ku ajak kembali Mika ke bawah pohon sakura di tepi sungai. “ini untuk mu Mika.” Ku sodorkan beberapa foto yang ku ambil saat ayah dan ibu baru bercerai. Mika terkejut melihat dirinya ada di dalam foto itu. “Aku baru tahu kalau itu kamu Mika, wanita yang membuat pemendangan indah di sini hilang karena ketidakhadirannya, wanita yang membuat aku ingin cepat pergi dari sini saat aku tak menemukannya, sekarang aku benar-benar memilikinya.” Mika tersenyum dan memegang kedua pipiku dengan tangannya yang halus. “Hiro, makasih selalu membuatku melambung setiap hari, menduduki singgah sana cinta tertinggi yang indah ini.” Mata Mika mulai berkaca-kaca, langsung ku peluk dia dengan erat.

Setelah peristiwa kemarin, membuatku mengingat perceraian ayah dan ibu. Aku kembali terpukul, ibu menikah lagi dengan lelaki beranak satu. Ku habiskan waktu di bar dengan tujuh botol minuman keras di hadapanku. Aku mabuk, tak tahu mana arah jalan pulang. Ku lihat cahaya sangat terang menghampiriku membuatku tak sadarkan diri.


Ku buka mata, Mika berada di sampingku tertidur dengan menggenggam tanganku. Ternyata aku koma sudah lima hari, cahaya itu adalah mobil truk yang menabrakku. Aku hanya luka tak berarti di bagian lutut dan siku, tapi dokter memberi tahuku agar segera kerumah sakit jika kepalaku pusing setelah keluar dari rumah sakit. Mika mengantarku pulag bersama ibu dan ayah baruku. Waktu terus berlalu hingga aku lulus sekolah.

Satu tahun setelah aku menganggurkan diri untuk tidak melanjutkan pendidikan, aku memutuskan Mika tanpa memberi alasan kepadanya. Mika tak menginginkanku memutuskannya tapi aku tetap memutuskannya. Mika masih sering  ke rumahku dan selalu disambut hangat ibu adikku. Tapi kali ini aku yang mengundangnya melalui Yuka. “Oi Mika, apakah kamu datang ke rumah Hiro bersama denganku dan Zomi, dia bilang rumahnya kosong karena ibunya ke Indonesia bersama adik dan ayahnya jadi dia ingin berpesta.” Yuka mengajak Mika bersama ke rumahku. “Tidak, biar akusendiri yang ke sana.” Sebelum Mika dating aku dan teman-teman sudah memulai pestanya, aku berpura-pura mabuk seperti teman-teman yang lain.

Malam semakin larut, aku berusaha tak tertidur menjaga Mika dari teman-temanku yang mabuk. Aku melihat Zomi mencium Mika dalam kondisi manuk, Mika mendorongnya dan berlari ke luar menuju kamar mandi. Saat Mika kembali aku sengaja mencium temanku Ashika yang mabuk berat. Aku tahu ini sangat melukai Mika. Mika tak jadi masuk ke kamar, aku melihatnya melalui jendela dia berlari meninggalkan rumahku.

“Hiro, ini sms ku terakhir untukmu. Sampai kapan pun aku tak akan berhenti mencintaimu. Aku ingin berbicara denganmu. Aku tunggu di tempat faforitmu besok sore, jika kamu tak datang aku benar-benar menyerah dan berusaha berhenti mencintaimu.” Aku sngaja dating terlambat dua jam berharap dia sudah pergi dari sana, ternyata aku salah dia benar-benar menungguku. Aku tidak turun dari sepedaku, bahkan aku berteriak dan melempar cincin yang Mika lemparkan padaku saat aku memutuskannya. “Ku rasa kamu sudah bahagia dan melupakan aku, semalam aku lihat kamu mencium Zomi.” Aku berteriak “Bukankah kamu yang mencium dan bercumbu dengan wanita lain.” Mika membantah “Oi Mika, aku tidak akan menghapus air matamu lagi, jadi percumah.” Aku pergi meninggalkan Mika yang berusaha mengejarku dengan berlari, sebenarnya aku menangis tapi aku yakin inilah terbaik untuk Mika.

Sudah lebih satu tahun tidak bertemu Mika, aku merindukannya. Aku berusaha mnelfonnya namun tak pernah di angkat. Aku kirim sms agar dia menemuiku di tempat faforitku tapi dia tak datang. “Mika, aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal, aku ingin melanjutkan study ke Amerika.” Penantianku sia-sia.

Yah, itulah ceritaku sebelum aku memutuskan kuliah di Amerika dan memilih Indonesia sebagai tempat tinggal baruku. Aku ingin melupakan Mika, walau sebenarnya sampai kapan pun aku tetap  menunggunya. Pernahkah kamu duduk di singgasana cinta tertinggi? Singgasana yang menjadikanmu raja cinta bahagia, tapi kamu sengaja menjatuhkan dirimu sendiri dari singgahsana itu, kamu gak cacat sih, Cuma kamu gak bisaberdiri tegak seperti dulu lagi. Mika, memang aku yang mengakhiri hubungan ini. Karena aku sudah merasakan sakitnya putus cinta aku tak akan merasakan cinta lagi. “Mika, tetaplah kuat dan tersenyum seperti saat tak mengenalku.” Mika, saat kamu tahu semua tentang ini, aku ada di langit melihatmu. Jika engkau bahagia maka aku akan berwarna biru, jika kamu merindukanku, aku pasti berwarna merah pada senja hari, jika hujan turun maka aku tahu kamu sedang bersedih, lalu saat gelap malam dating rasakanlah aku selalu memelukmu.

Tiga tahun akau belajar Bahasa Indonesia, akhirnya aku bisa berbahasa Indonesia dan mampu membaca tulisan  Bahas Indonesia. Aku seperti orang bodoh, baka! baka! setelah membaca diary Hiro yang hanya bertuliskan tentangku. Hiro memutuskan aku bukan karena tak mencintaiku. Tapi karena tak ingin membuatku menderita harus kehilangannya. Hiro tak pernah bercerita kalau kecelakaan itu menyebabkan kangker di kepalana. Hiro, maafkan aku membuat penentianmu sia-sia. Ternyata sakitku tak sebanding dengan sakit yang selama ini kamu rasakan. Hiro, aku akan selalu ingat, jika langit biru kamu bahagia bersamaku, jika langit berwarna merah wajahmu merona karena tahu aku merindukanmu, jika hujan maka kamu bersedih bersamaku, dan jika malam datang akan ku rasakan kehangatan pelukanmu. Hiro, kita akan bersatu di sana.